

Saya telah menjalankan beberapa program penting selama menjabat sebagai Kepala Pemerintah Aceh. Diantaranya, menjalankan amanah Wali Nanggroe, Alm. Dr. Muhammad Hasan di Tiro, untuk tetap menjaga hutan dan melindunginya karena hutan adalah harta yang paling berharga untuk anak cucu kita.”, kata Kepala Pemerintah Aceh Bapak Drh. H.Irwandi Yusuf, Msc.
Kalimat pembuka diatas saya dengar langsungĀ pada Hari Jum’at, 16 Juli 2010, jam 15.40 WIB di Hotel Oasis, Banda Aceh. Saat itu saya bersama rekan-rekan dari Lembaga Perkumpulan DEMOS, Jakarta diminta memfasilitasi Program Penguatan Lembaga Legislatif DRPA Fraksi Partai Aceh. Lalu, apa pendapat saya atas pernyataan orang nomor satu di Aceh tersebut?
Saya hanya ingin katakan bahwa Irwandi Yusuf tidak berhasil menerapkan program pemeliharaan hutan Aceh, sedikit pun tidak, tidak sama sekali. Bagaimana saya katakan berhasil jika masih ada setiap hari kayu-kayu ditebang di hutan Aceh? Dan disisi lain dia mengijinkan perusahan tambang menginvestasikan modal mereka dengan membuka lahannya dalam hutan Aceh?
Irwandi memang tegas, tapi kurang bijaksana. Programnya bagus secara teoritis, namun sering tak berpengaruh apa-apa saat dijalankan. Mengapa demikian? Semua itu karena Irwandi Yusuf hanya bersedia mendengarkan orang lain diluar orang-orang yang dekat dengannya seperti Kepala Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA), Tim Asistensi, dan orang-orang yang pandai mencari muka darinya.
Irwandi-Nazar terlalu yakin dan sangat percaya bahwa mereka yang dekat dengannya adalah orang-orang luar bisa yang benar-benar mengerti hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat Aceh. Ternyata mereka tidak bisa apa-apa, bukan?
Jika mereka membisikkan banyak kebenaran yang sanggup membawa perubahan bagi saya dan 4 (empat) juta lebih penduduk Aceh lainnya di Bumi Hasan Tiro ini tentunya saya tak akan menuliskan demikian. Tetapi, sejauh ini saya belum rasakan perubahan apa-apa dariĀ seorang Irwandi Yusuf dengan tim asistensinya itu selain dana yang ikut berkurang sia-sia.
Andai saja dana yang diperuntukkan bagi tim asistensi Irwandi itu digunakan untuk membangun rumah kaum dhuafa atau tunawisma yang banyak di Aceh, maka Irwandi dan Nazar akan dikenang oleh kaum lemah tersebut sepanjang masa karena banyak rumah dibangunnya. Dan bukan tidak mungkin untuk priode depan pasangan ini akan diminta memimpin kembali Aceh.
Tags: Kompasiana, Celoteh Om Arbi, Aceh
saya sudah sering mengkritik kebijakan para lembaga pemerintahan saya ini. Saking seringnya mreka dan saya muak..kami saling membenci sudah 2 tahun lebih. Saya sering menulisnya dan mengirimkan ke media cetak di daerah kelahiran saya ini meskipun mereka enggan memuat dengan alasan yg belum bisa mereka jelaskan bila setiap saya tanya. Bahkan, saya sering melontarkannya langsung bila bertemu mereka. tapi, semua masih begini saja adanya. Keadaan yg mungkin suatu hari membuat saya melakukan REVOLUSI!
+1
-1

Jadi, selama ini Aceh “dibawa” kemana oleh mereka mas Arbi ?
+1
-1
Selama ini mereka membawa Aceh ke suatu tempat berupa keadaan yg tak pasti, belum ada perubahan yg signifikan sama sekali. Harapan selalu tinggal harapan.
+1
-1

Dimana-mana pejabat kok kayak begonok yak
apa kita tidak usah bernegara saja ya?
+1
-1
mari kita bubarkan saja lembaga pemerintahan kita, setuju???? ![]()
+1
-1

tulisan yang menarik dan patut diacung jempol, tapi soal penebangan hutan itu, mungkin bung arbi juga tahu siapa pelakunya.., saya yakin siapa pun gubernurnya–kecuali dari orang ‘mereka’–, niscaya itu akan selesai, sehingga yang perlu dibubarkan itu bukan pemerintahan, tapi kembalikan ‘mereka’ ke tempatnya, sehingga tidak menebang hutan, tidak beking tempat perjudian, perparkiran yang membuat PAD berkurang, dll, bagaimana?
+1
-1
wah…fans MU datang…hahaha…betul cek muns…saya setuju dengan Anda! Thanks udah singgah…hehe….pada tulisan #3 ttg ini saya akan tuliskan ttg JKA…program paling lucu selama sejarah Aceh. see u.
+1
-1
Guest User