

Membaca berita Tribun-Timur, salah satu koran lokal di Makassar hati saya menjadi miris. Dalam rapat evaluasi Panitia Muktamar Satu Abad Muhammadiyah Sulsel di Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulsel, Bendahara PW Muhammadiyah Sulsel Prof Dr Mustari Bosrah mengungkapkan bantuan yang diterima panitia, antara lain dari :
* Ichsan Yasin Limpo (Bupati Gowa yang juga adik kandung Gubernur Sulsel) sebesar Rp. 30 juta
* Ilham Arif Sirajuddin (Walikota Makassar yang dikalahkan oleh Gubernur Sulsel dalam perebutan Ketua DPD I Golkar) sebesar Rp. 30 juta, dan
* Syahrul Yasin Limpo (Gubernur Sulsel) sebesar ‘hanya’ Rp. 5 juta.
Gubernur ‘hanya’ menyumbang Rp. 5 juta ??. Ya !!!, namun pak professor yang bendahara itu telah mengembalikan dana tersebut. Barangkali sumbangan itu dianggap tidak pantas bagi seorang pejabat sekelas gubernur apalagi menurut pak professor, sepekan menjelang muktamar PW Muhammadiyah Sulsel melakukan audiensi ke Gubernur Sulsel yang dalam kesempatan itu pak Gubernur berjanji akan memberi bantuan.
“Mungkin Gubernur sudah tidak punya uang, Insya Allah Muhammadiyah akan bantu” kata pak professor yang kemudian disahuti oleh pengurus lain, “Maklum, kan masih jauh pilkada”. Lebih konyol lagi karena ada pula pengurus yang berkomentar “mungkin bantuan itu untuk IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah)”.
Setelah hasil rapat itu diberitakan media, Pak Gubernur lalu menyerahkan sumbangan Rp. 50 juta dan menganggap sumbangan Rp. 5 juta sebelumnya adalah kelalaian stafnya.
Nah, sumbangan yang Rp. 50 juta ini akhirnya diterima oleh Muhammadiyah, he he he.
Ketersinggungan Muhammadiyah terhadap ‘uang receh’ tersebut sangat beralasan. Dalam pemilihan Gubernur 2007 silam dimana Syahrul Yasin Limpo (SYL) yang notabene adalah mantan Sekum DPD I Golkar yang pensiun karena PNS harus berhadapan dengan incumbent Gubernur, Amin Syam yang saat itu masih menjabat sebagai Ketua DPD I Golkar. Partai yang pertama kali mengusung SYL adalah Partai Amanat Nasional yang memiliki chemistry yang sangat kuat dengan Muhammadiyah. Dalam berbagai kesempatan acara Muhammadiyah pada masa-masa menjelang Pilgub, SYL senantiasa didaulat untuk berorasi dan memperkenalkan diri sebagai keluarga Muhammadiyah. Sangat jelas bagi publik saat itu bagaimana PW Muhammadiyah Sulsel turut ‘berkeringat’ menggolkan SYL menjadi gubernur. Bahkan dalam Milad 98 Muhammadiyah (6 April 2008) di Gedung Celebes Convention Centre, Prof Din Syamsuddin mendaulat SYL memberikan pidato padahal tidak ada dalam agenda acara. Saya memohon kepada Gubernur Sulsel yang akan dilantik dua hari lagi agar berpidato di sini sebelum pidato kenikmatan saat pelantikan,” kata Din saat memberikan sambutan di acara puncak Milad Muhammadiyah tersebut.
Apakah Muhammadiyah telah menjadi demikian pragmatis dan kapitalis ?
Dalam salah satu artikel pada web resmi Muhammadiyah (www.muhammadiyah.or.id) Prof. Dr. Syamsul Arifin, M. Si, mengutip pemikiran dari seorang ahli asal Amerika, James Peacock tentang Muhammadiyah yang dinilainya sebagai kelompok terbuka dalam menerima kebudayaan dari luar. Saya khawatir, salah satu budaya luar yang diakulturasi oleh Muhammadiyah adalah menggunakan ukuran uang sebagai modal yang setara dengan manusia, mesin dan metode dalam konsep 4-M industri. Jika hal tersebut yang terjadi maka kita tak dapat lagi membedakan Muhammadiyah yang berusia se-abad dengan gerakan-gerakan instan atas nama Islam yang bertindak untuk dan atas nama uang seperti yang banyak menghantui ketentraman masyarakat dewasa ini.
Tags: muhammadiyah, sulsel

yang namanya menyumbang menurut saya itu harus didasari ikhlas dan sukarela. Rasanya tidak elok kalau mengembalikan sumbangan berapapun jumlahnya.
Kalau seorang Gubernur cuma bisa menyumbang 5 juta saya rasa wajar saja justru kalau sumbang 50 juta itu bikin pertanyaan, diantara merebaknya rekening gendut polri apa kantong gubernur juga gendut hingga menyumbang bisa keluar 50 juta?
+1
-1
betul Mba,…. jadi binun.. nih ormas islam apa LSM fiktif , hehehehe
+1
-1

Nyumbang doa mungkin bisa lebih manfa’at kali….
salam
+1
-1
soalnya do’a gak bisa pake bayar tiket pesawat Mas
+1
-1

doa bisa membuat urusan jadi lancar, termasuk akomodasi, transportasi apapun, Insya Allah
pesawat bayar juga bisa nyungsep….
salam
+1
-1
Guest User