Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Marufinsudibyo

Hanya seseorang yang suka melihat bintang....

Sri (Dipaksa) Minggat

OPINI | 20 May 2010 | 23:29 Dibaca: 258   Komentar: 9   0

Mari kita berandai-andai menempatkan diri di posisi seorang Sri Mulyani Indrawati dalam pekan-pekan krusial di bulan Maret dan April 2010 lalu. Setelah DPR memilih opsi C bagi skandal Century, yang menempatkan Sri dan sekondannya (Boediono) menjadi tersangka sebelum berlangsung peradilan yang sebenarnya, Sri segera menghadapi medan pertarungan terbuka dengan segala pihak. Kebijakannya untuk tetap mempertahankan reformasi kementeriannya, salah satunya dengan mengusut dan mengangkat kembali kasus-kasus megaskandal perpajakan yang telah mengendap, mendapat tantangan serius ketika menyentuh harga diri seorang “tokoh puncak” yang melegenda karena campur tangan tak kasat matanya dalam menenggelamkan kawasan Porong, Sidoarjo (Jawa Timur) di timbunan lumpur selama empat tahun terakhir. Belakangan ranah perpajakan justru menghantam balik Sri ketika si-wajah-tak-berdosa Gayus Tambunan kabur ke Singapura membawa petaka meski pundi-pundinya sudah digelembungkan program reformasi keuangan yang dibiayai hasil utang. Pembahasan APBN-P yang menjadi tanggung jawabnya nyaris carut marut ketika dua fraksi walk-out dari arena sidang, sebuah dagelan yang tak lucu karena belakangan ketahuan Sri justru diundang sebagai Menteri Keuangan oleh pimpinan DPR yang merepresentasikan segenap unsur. Dalam waktu yang sama pula KPK mulai mengusut peranannya dalam skandal Century meski dengan cara yang tak kalah lucunya, menyebal dari kebiasannya selama ini yang suka main panggil orang ke kantornya untuk kemudian ditelikung dan dititipkan ke Cipinang.

Alhasil, sebagai sosok yang dipilih menjadi menteri akibat latar belakang profesionalnya dan bukan karena dukungan politik, Sri ibarat penderita sampar yang diemohi dimana-mana di Indonesia meski dipuji sebagai yang terbaik di Asia dalam bertahun terakhir. Satu kepentingan politik menanti durian runtuh, menunggunya jatuh. Sementara kepentingan yang lain menunggu dengan sabar di tikungan jalan, menanti kelengahan. Tak ada yang berhasrat lagi membelanya, sehingga satu-satunya harapan Sri hanyalah perlindungan sang “godfather”. Namun seperti kita tahu, sang “godfather”, yang seharusnya menjadi tokoh-paling-ditakuti-di-negeri-ini justru mengidap inferioritas kronis sehingga, ibarat jenderal berhati tikus, nyaris tak punya rasa percaya diri meski 60 % rakyat memilihnya dan lebih dari 60 % kursi parlemen bisa dijinakkannya dalam “koalisi”. Walau pernah menyatakan mengambil alih tanggung jawab skandal Century dan menyatakan kebijakan tidaklah bisa dipidanakan, namun itu hanyalah sebuah seremoni bertanam tebu di bibir karena nyaris tak ada tindakan yang seia-sekata dan justru lebih memilih menunggu ke mana arah angin bertiup. Paling akhir, sang “godfather” malah bermain mata dengan si “tokoh puncak” yang menjanjikan jaminan kelangsungan hingga 2014 mendatang, sebuah perselingkuhan yang dengan telak menonjok batang hidung seorang Sri. Alhasil, kasta Sri jatuh menjadi paria se-paria-nya dan tak punya pilihan lain kecuali terpaksa menerima tawaran Robert Zoellick untuk berkantor di Washington, meski Sri merasa tak pernah mengirim lamaran ke Bank Dunia.

Jangan salah, saya bukan membela Sri. Saya juga tidak bergabung dengan komunitas-komunitas pendukung dan pembela Sri yang marak bertebaran di jejaring sosial seperti Facebook dan yang lainnya. Sri tidaklah sepenuhnya bersih suci tanpa noda. Peran sentralnya dalam skandal Century, termasuk kelakuannya yang tetap meminta saran, pendapat dan persetujuan sang “godfather” yang saat itu sedang terpisah separuh belahan Bumi dengan Indonesia hingga membuat Jusuf Kalla sebagai acting-president merasa dikadali, menunjukkan hal itu. Namun Sri juga bukan sosok abal-abal yang wujuduhu ka’adamihi (kehadirannya sama saja dengan ketidakhadirannya) layaknya sejumlah menteri lainnya yang lebih suka bermain citra dibanding bekerja nyata. Stabilnya situasi moneter dan fiskal Indonesia selama 2004 - 2009 dan kemampuan Indonesia bertahan dari amukan badai krisis moneter global yang berkecamuk sejak pertengahan 2007 menjadi monumen betapa luar biasanya kinerja Sri, yang rela banting tulang begadang hingga pagi menjelang semata untuk menjaga agar nilai tukar mata uang dan indeks saham republik ini tidak ambles ke lubang yang sangat dalam sebagaimana dialami negara-negara tetangga kita. Pun demikian respon cepatnya yang mencengangkan guna mengatasi kasus Gayus Tambunan, satu tindakan yang bahkan tak pernah dilakukan institusi yang nyata-nyata mengklaim diri sebagai hamba hukum dan penegak hukum.

(Terpaksa) perginya Sri adalah satu paradoks yang diidap negara berkembang seperti Indonesia. Ketika negara-negara lain memilih berlari sepenuh tenaga menyongsong masa depan dengan menempatkan kepentingan ekonomi sebagai jenderalnya, negeri ini masih berjalan di tempat tanpa maju-maju dengan menempatkan politik sebagai panglima, satu paradigma usang yang membosankan. Cilakanya paradigma tersebut justru juga diterapkan secara miopik-autistik. Alhasil kita seakan-akan tak sanggup memandang jauh ke depan, paling banter memandang hingga 5 tahun ke depan alias ke musim pemilu saja dan lebih sering susah tidur malam karena bingung esok pagi mau makan apa. Di sisi lain kita juga asyik dengan diri sendiri sehingga hanya melahirkan jago kandang yang hanya sanggup bertarung di dalam negeri namun melempem ketika berada di luar. Dalam konteks inilah Sri, dengan otak cerdasnya, menjadi sosok yang terlampau maju pikirannya yang susah diikuti komponen mayoritas anak bangsa sehingga ‘bukanlah’ tempatnya di sini. Akibatnya, Sri yang nir-dukungan politik menjadi bulan-bulanan di antara kepentingan-kepentingan politik ketika mereka terusik, tak peduli bahwa sosok seperti Sri justru sangat diminati banyak negara di luar Indonesia terkait keahliannya di bidangnya.

Sri bukanlah kasus pertama. Sebelumnya ada Habibie, otak cerdas lainnya, yang juga memilih ‘mengasingkan diri’ ke Jerman usai menjalani masa kepresidenan singkat (1998-1999) dan riuh yang dipungkasi dengan penolakan pertanggungjawabannya oleh MPR. Perginya Habibie diikuti ambruknya IPTN, industri pesawat terbang yang pernah dijuluki Everett dari Timur dan pernah diramalkan akan menyamai pabrikan Boeing. Nasib IPTN tak pernah bisa menyusul Boeing dan pada akhirnya terpaksa dibonsai menjadi PT DI yang terus-menerus merugi dan membuahkan diaspora ilmuwan dan teknisinya kemana-mana yang justru malah membesarkan industri sejenis di mancanegara. Baru sekarang kita merasakan besarnya kehilangan akibat ambruknya IPTN ini, tatkala ceruk penerbangan komersial menengah jarak pendek dan sedang Nusantara yang dulu dirancang untuk diisi pesawat N-250 kini siap diterbangi pesawat-pesawat ATR-72 dan variannya dari Perancis, yang sejatinya memiliki kualifikasi setara dengan N-250. Kita pun hanya bisa terpana, tatkala konsorsium Airbus, yang banyak menampung pemikiran Habibie dan ‘pelarian-pelarian’ IPTN, belakangan sanggup melampaui kedigdayaan Boeing dan bahkan melahirkan megajumbo Airbus A-380 yang fenomenal itu. Seakan hendak meledek kita, Airbus A-380 menjalani penerbangan komersial perdananya justru di tetangga kita, dari Singapura berakhir di Australia. Dan kita hanya kebagian dilintasi wilayah udaranya saja. Di sisi lain kita berkubang dengan penerbangan-penerbangan ‘murah’ yang memanfaatkan pesawat bekas dengan metode perawatan yang memprihatinkan yang berpuncak pada tragedi Adam Air penerbangan 574 di Selat Makassar pada 1 Januari 2007, kekonyolan yang menjadi sorotan dunia.

Saya percaya, meski mendapatkan pengalaman pahit yang membuatnya (dipaksa) minggat dari tanah air tercinta, dalam lubuk hati seorang Habibie, dan juga Sri, masih tersimpan keinginan untuk pulang kembali ke tanah air, mendarmabaktikan kemampuannya. Bukan sekedar pulang hanya untuk berlibur di tanah Mooi Indie yang subur namun gak makmur-makmur ini. Dan saya juga masih berharap baik Habibie maupun Sri, dan pelarian-pelarian cerdas lainnya yang juga (dipaksa) minggat dari sini, sebenarnya sedang menjalani proses seperti yang telah dilalui India : berkarya di mancanegara guna merintis jalan yang sama di tanah air tercinta. Namun kapan ? Entahlah, tanyakan saja pada rumput yang bergoyang.

Ndang balio Sri..
Ndang balio…

(Cepatlah pulang Sri..
Cepat pulang…)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Ratu Atut [Hanya] Divonis 4 Tahun Penjara! …

Mike Reyssent | 7 jam lalu

Pak Jokowi, Saya Jenuh Bernegara …

Felix | 13 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 14 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 14 jam lalu

Ini Pilihan Jokowi tentang Harga BBM …

Be. Setiawan | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 7 jam lalu

Pemuda Solusi Terbaik Bangsa …

Novri Naldi | 8 jam lalu

Rasa Yang Dipergilirkan …

Den Bhaghoese | 8 jam lalu

Kisah Rhoma Irama “Penjaga …

Asep Rizal | 9 jam lalu

Marah, Makian, Latah. Maaf Hanya Ekspresi! …

Sugiyanto Hadi | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: