Hanya butuh sembilan tahun (1978-1987) saja, China menoreh income perkapita dua kali lipat
(Arief B. Iskandar). Inggris butuh waktu 100 tahun, Amerika Serikat 47 tahun, Jepang 34 tahun, dan Korea Selatan 11 tahun. PM pada masa itu Hua Goufeng (1976-1980) dan Zhao Ziyang (1980-1987). Masa Hua Goufeng, ia dipilih Mao Za Dong karena ide idenya yang cemerlang tentang sistem pertanian berdaya guna tinggi. Kerjasama perdagangan dengan Inggris ditingkatkan. Dengan Italia, tranfer ilmu, teknologi dan kebudayaan. Masa Zhao Ziyang (bersama Deng Xio Ping) terkenal menjalankan “Politik Pintu Terbuka” untuk investor asing. Era ekonomi pasar bebas dengan ideologi negara tetap komunisme. Kepemipinan Deng kuat meletakkan dasar reformasi ekonomi a.l. desentralisasi, marketisasi, diversifikasi kepemilikan, liberalisasi dan internasionalisasi. Ada faktor dukungan kuat rakyat (pragmatis dan senang kerja keras) dan kepemimpinan yang tegas, kendati cenderung otoriter. Tapi apa kata mereka? This is China, I dont care what they say. Alhasil, its a miracle. Keajaiban pertumbuhan di luar texsbook ekonomi barat (a.l.teori stimulus dari utang).
Mari kita lihat rahasia di balik kesuksesan ini. Deng Xiaoping pada 1978 mengatakan, ”Bila China ingin memodernisasi pertanian, industri, dan pertahanan, yang harus dimodernisasi lebih dahulu adalah sains dan teknologi serta menjadikannya kekuatan produktif (Kaede Rukawa)”. Jadi ada penekanan sains dan teknologi. Majunya Korea Selatan, Jepang, Taiwan tak lepas dari sentuhan sains dan teknologi dari produk yang di ekspor.
Lanjut. Zhu Rongji (PM 1998-2003) mengeluarkan pernyataan yang terkenal “berikan saya 100 peti mati, 99 untuk para koruptor dan 1 untuk saya jika melakukan hal yang sama”. Tapi akibatnya lebih dari 4000 koruptor dihukum mati(Simontanutama). Mungkinkah ini terjadi di Indonesia? Tentu tak semudah itu.
Terakhir, Cina juga berhasil menunjukkan daya tahan ekonomi negaranya ketika seluruh negara terguncang akibat krisis keuangan global tahun 2008. Disinilah paket stimulus dari utang, ala texsbook barat, berperanan penting (Berita2.com, 19/10/2009). Hal yang sama sudah kita buktikan.
Analisa lain. Selain didukung oleh pusat-pusat R&D skala global, salah satu ciri penting dari pertumbuhan ekonomi China yang impresif adalah dukungan tenaga ahli berpendidikan dan tenaga kerja dengan keterampilan(Kaede Rukawa). Ini sejalan dengan analisa majunya Korea Selatan. Menurut ekonom Korea Institut for International Economic Policy, Chuk Kyo Kim (nusantaraku), keberhasilan Korea Selatan dapat tidak lepas dari perhatian besar pemerintah Korsel pada pendidikan, pembangunan sumber daya manusia, serta investasi agresif di kegiatan penelitian dan pengembangan. Catatan yang berharga. Anggaran negara untuk pendidikan tinggi dan R&D negara maju tak tanggung tanggung.
Pada 2005, Pusat Penelitian Modernisasi China menerbitkan peta jalan Modernisasi China untuk abad ke-21. Isinya: tahun 2025 produk domestik bruto (GDP) China menyamai Jepang. Tahun 2050 China jadi negara maju secara moderat. Tahun 2080 China menjadi negara maju, sama dengan AS. Tahun 2100 China menjadi negara paling maju di dunia, melampaui AS. Atas dasar peta jalan itu, China bergerak menuju masyarakat yang lebih baik secara bersama (xiaokang) (I Basis Susilo - KOMPAS, Kamis, 1 Oktober 2009 | 04:31 WIB). Kita, sejak era reformasi, tahapan pembangunan seperti orde baru (GBHN), tidak mendapatkan titik tekanan. Sesuai dengan jamannya, kita perlu buku putih garis pembangunan berkelanjutan. Apalagi dengan pembatasan masa jabatan presiden lewat amandemen. Ganti presiden, ganti lagi kebijakan. Maka perlu arah kebijakan yang konsisten dan punya visi jauh kedepan.
Sulit melakukan perbandingan kemajuan Korea Selatan, Jepang dan China sebagai model yang gamblang bisa diterapkan di Indonesia, kalau temanya berbicara nasionalisme, nilai budaya (mono) dan sistem politik. Satu hal yang pasti sama, kita dan mereka ikut hancur sebagai negara korban penjajahan (PD II). Ada analisa sederhana. Kalau di Eropa dan Amerika maju dengan etika protestannya, Japan dengan restorasi meiji, maka demikian halnya dengan China melalui spritualitas konfusianisme (Moel Wijaya Kusuma). Maka bisa dipastikan nilai budaya kita tidaklah sama.
Contoh. Kampanye cinta produk sendiri juga sudah sering dilakukan. Kenyataannya, tak segampang yang dibayangkan, bila membayangkan hal sama pada rakyat Korea Selatan yang nasionalismenya tinggi. Rakyat tidak menyukai produk (Jepang) negara bekas penjajah. Mengalahkan Jepang dan China dengan soft-power. Pakai produk sendiri. Indonesia?
Kesulitan analisa penulis lainnya, pengamat juga tak lepas dari nilai apresiasi berlebihan. Padahal Indonesia tak seburuk seperti yang diamati. Misalnya soal ethos kerja tinggi, disiplin dll. Mahasiswa kita dikenal berprestasi di luar negeri. Bahkan banyak diantaranya bekerja sambil kuliah. Disiplin soal waktu dan kuliah teruji. Tapi begitu kembali ke tanah air, cair kembali. SDM kita sebenarnya punya karakter ethos kerja tinggi. Ketika sistemnya longgar, tidak fair, cair kembali. Jadi tidak semua alasan valid. Sistem (lingkungan) menentukan.
Paradigma sistem politik kita, penulis berusaha membuat model sederhana (dalam batasan analisa dan konsep pemikiran). Tarikan ke kiri, ideologi Islam (mindset puritan), muncul dari satu lingkaran (1). Lingkaran ini terarsir dengan lingkaran Islam moderat (2) dan lingkaran Nasionalis (3). Lingkaran 2 dan 3 posisinya ditengah (juga saling terarsir). Lingkaran 2 dan 3 juga terarsir dengan lingkaran di sebelah kanan (tarikan), yaitu lingkaran pandangan liberalis atau tarikan tajam ke ideologi kapilisme(4). Lingkaran 1 dan 4 tidak terarsir. Seperti air dan minyak. Dengan alat analisa itu juga, penulis terbuka mata, bahwa kita sulit memisahkan ideologi ini dari personifikasi diri (alur pikiran dan jati diri).
Menurut Profesor Deepak Lal dari Universitas California, Los Angeles, faktor penting mengapa pimpinan China berbeda dengan elite politik India dan Indonesia, telah berhasil menempuh kebijakan reformasi ekonomi yang lebih konsisten dan berkelanjutan, adalah karena mereka sepenuhnya merangkul ideologi kapitalisme (Thee Kian Wie). Di sisi lain, dalam pidato baru-baru ini, Presiden Hu Jintao menegaskan demokrasi Barat tidak cocok bagi China (jati diri). Sikap masyarakat China yang gandrung produk AS, terpesona dengan kemajuan AS, meniru produk negara maju adalah sikap pragmatis yang tidak memiliki pengaruh kuat atas nilai budayanya sendiri. Ketatanegaraan masih menganut sistem partai tunggal. PKC masih kuat bercokol.Terjadi pemisahan yang rasional.
Kita tetap bisa berkata, Indonesia tetap Indonesia. Tapi kenyataan demokrasi (presidensial atau parlementer) akhirnya pun tampak berbenturan. Ideologi masing masing mengental dalam praktek. Ada yang menolak mentah mentah ideologi kapitalisme dan praktek demokrasi barat. Sehingga dengan aliran pikiran yang tak terpisahkan ini, kita sulit berkata hal yang sama, merangkul ideologi kapitalisme dalam tataran pragmatis, kendati perlahan lahan ikut memraktikkan dan memanfaatkannya. Sebatas analisa pula (istilah mayoritas-minoritas), penulis mengamati bahwa mayoritas mengendalikan akses politik (hampir total), sementara minoritas menguasai perekonomian. Jadi dimana nasionalisme ini bisa diletakkan? Bisakah model pembelajaran dari negara maju diterapkan tanpa melibatkan sistem budaya, politiknya dalam satu paket? Apakah benar bahwa kita tidak punya bawaan karakter, mental untuk jadi negara maju?
Political Will dan Konsistensi Kebijakan
Dari fakta ketertinggalan dan pelajaran yang berguna, penulis menyimpulkan sbb:
- Langkah awal yang mengandung harapan adalah sikap bersama soal korupsi. Ini juga keprihatinan hampir semua umat berbeda beragama, aliran pikiran dan paradigma politik semua komponen dan organisasi bangsa. Cari moment tepat dan deklarasikan pernyataan sikap, semua ormas, lembaga pendidikan, organisasi keagamaan dan adat, dsbnya, sikap anti korupsi serentak se Indonesia. Tentukan hari anti korupsi (kalau bukan tanggal 9 Desember) sebagai hari peringatan seremonial nasional atau sikap anti korupsi itu jadi tambahan deklarasi sikap bangsa dalam upacara pengibaran bendera nasional.
- Jangka pendek dan jangka menengah, pemerintah dituntut menunjukkan political will dan konsistensi kebijakan yang tegas dan lugas menjalankan pembangunan yang stabil, simultan, tapi progresif demi kepentingan rakyat. Pemerintah (termasuk Presiden), tidak perlu selalu bereaksi dan sibuk memainkan peran politiknya sendiri, karena sudah dilengkapi mesin politik partai pendukung. Jika ketahanan ekonomi kuat, fundamental ekonomi kuat, tentu hiruk pikuk politik tidak berimbas balik.
Political will dan konsistensi kebijakan pemerintah tertuang sbb:
- Produktifitas sektor bahan dasar industri ditingkatkan (injeksi dengan stimulus). Besi, plastik, kimia, gas atau sumber energi alternatif, sesuai dengan pilihan prioritas industri swasta. Terkait kerjasama dengan asing dalam sektor ini, demi kepentingan nasional, harus direnegosiasi kembali. Khususnya gas untuk pupuk. Untuk sektor industri, terkait dengan kuatnya pengaruh pasar terbuka, pemerintah diharapkan waspadai dan antisipasi industri lokal dari netloser. Konsisten dengan program “green energy”, pengganti energi fosil dan sumber energi alternatif (biodiesel, bioethanol), yang punya multiplier efek, nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja tinggi dan subsidi berkurang.
- Galang ekspor dan penguatan domestik. Perusahaan atau usaha lokal yang punya nilai tambah tinggi, dipilih (tim nasional), dikembangkan dengan lompatan teknologi tinggi, bersama perusahaan milik negara, diorientasikan ekspor. Termasuk sektor pertanian (pemanfaatan SDA, BEP cepat dan penyerapan besar tenaga kerja). Pendanaan dari swasta (bank dan nonbank) mendapatkan regulasi kondusif dan jaminan pemerintah, pendanaan dari bank (milik negara) jadi bagian kebijakan pemerintah ini (sesuai dengan undang undang). Perimbangannya, bangun infrastruktur dan pemerataan pembangunan untuk kesejahteraan (penguatan domestik).
- Berantas dan cegah korupsi sampai ke tingkat paling bawah dengan sanksi yang tegas tanpa tebang pilih. Tugaskan irjen tiap departemen, BPK, KPK, lembaga peradilan (termasuk hakim Tipikor), Satgas Antikorupsi, dan semua lembaga negara dan departemen , bukan hanya mengawasi dan menindak. Tapi bekerja sama membuat aturan yang rinci, lengkap dengan pendekatan proaktif yang menutup semua kelemahan sistem (sistem longgar) yang berpeluang terjadinya korupsi. Penulis menganggap polemik hukuman mati, pemiskinan, tak lebih bersifat pengalihan inti tema. Habis perdebatan (kendati mencerahkan), ganti lagi polemik baru. Tak ada solusi nyata. Sama halnya dengan retorika clean government, akuntabilitas, transparansi, dll, faktanya tampak berlawanan. Cari moment yang tepat dan ikrarkan dokumen itu serentak se-Indonesia. Presiden pernah mengatakan dirinya terdepan memberantas korupsi (dukung KPK), bicara clean government, akuntabilitas, transparansi, dan bersama kita bisa. Buktikan bersama rakyat. Rakyat kecil mengenal istilah “uang rokok”. Kedepan, sekecil apapun penyuapan, tak ada istilah “kasihan atau iba”. Jika ingin memberantas korupsi, reformasi total birokrasi jangan setengah hati, sampai ke akar-akarnya.
- Investasi agresif dibidang R&D, khususnya perusahaan lokal (tim nasional) berorientasi ekspor. Dalam pendidikan (SDM), pemerintah perlu memprioritas dana pendidikan 20% (20% ini pantas kita syukuri) juga kepada mahasiswa S1 berprestasi, untuk memberikan dana ikatan beasiswa S2 ke luar negeri seluas luasnya. Termasuk pendidikan tinggi singkat dan khusus lainnya bidang sains dan teknologi. Diharapkan dalam jangka pendek, mereka dapat kembali dan segera membangun negeri. Efeknya, tenaga ahli dan konsultan, asli dan lebih banyak dari bangsa sendiri.
- Rumuskan granddesign (peta jalan) Pembangunan Nasional Indonesia Progresif, sampai 2100.
Dengan masuknya Indonesia saat ini dalam negara G-20, maka tak ada yang tidak mungkin Indonesia menjadi negara adidaya. Lewat road map pembangunan progresif, disinilah national and character building akan kita temukan lagi (sistem). Kepercayaan diri atas kemampuan bangsa pun akan terbentuk kembali. Simultan tapi progresif. Karena kita tinggal di Indonesia, siapapun dengan aliran pikiran politik berbeda, dengan paradigma sistem politik yang berbeda, kita bisa melangkahkan kaki dan menapaki jalan perjuangan yang sama.
Serau bapak ditutup batuk, “Ehem”. Flash binggung, kirim pesan lagi, “Piye toh Pak? Otak manusia perlu suplemen “belajar”. Wong Kasparov saja kalah sama IBM. Kalau Indonesia mau belajar, berubah dan konsisten, …”. Bapak,”Indonesia pasti bisa? Wah asyik nih… lanjutkan, eh, maksudnya lanjut. Mungkin ada penonton lain beri input. Gak harus pakai flash khan?” Flash,”Ehem”.
Sumber gambar Kasparov: NYT






Dibaca:
Komentar:
1 dari 3 Kompasianer menilai Menarik




