Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Nicholaus Prasetya

Lahir 5 Desember 1990. kalau ditanya tujuan menulis, saya pengen jawab supaya kalau saya sudah selengkapnya

Demokrasi dalam Bingkai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika

OPINI | 02 May 2010 | 08:22 Dibaca: 844   Komentar: 3   2

Demokrasi. Itulah sistem pemerintahan yang diterapkan oleh Indonesia saat ini setelah melewati 32 tahun masa ketidaktransparanan terhadap publik. Indonesia kini boleh mengecap indahnya demokrasi. Pers bisa mengkritik pemerintah dan bukan berperan sebagai kaki tangan pemerintah. Masyarakat bebas berekspresi, mengutarakan pendapatnya, melakukan aksi unjuk rasa dan lain sebagainya. Pemerintah pun kini juga lebih dituntut untuk transparan dan tidak menutup-nutupi koreng yang ada di badannya sendiri.

Demokrasi telah mengubah masyarakat menjadi semakin aktif. Ini merupakan sebuah konsekuensi logis mengingat demokrasi sangat menjunjung tinggi pendapat setiap orang. Tidak ada lagi hal-hal yang sebenarnya melarang setiap pribadi untuk berbicara. Bagi pemerintah, demokrasi telah mengubah pemerintah untuk lebih bisa menerima masukan-masukan dari masyarakat.

Demokrasi dan dasar negara

Namun, dalam kasus di Indonesia, nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam demokrasi tersebut berada dalam satu bingkai utama yang telah menjadi dasar bagi terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bingkai utama ini memang terlihat seperti pembatas bagi demokrasi namun nyatanya ia bukan pembatas. Ia adalah pedoman bagi terbentuknya sebuah negara Indonesia yang tetap berada pada jalurnya namun juga memertahankan sisi demokratis yang dijunjung selama kurang lebih 12 tahun.

Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai dasar negara sangat menjunjung tinggi perbedaan yang dimiliki oleh Indonesia. Perbedaan ini pun tidak sebatas pada suku, agama, bahasa, ras, dan lainnya. Perbedaan pendapat pun juga menjadi hal yang dijunjung tinggi. Oleh karena itu, perbedaan pendapat yang ada di Indonesia yang diekspresikan dengan adanya sistem demokrasi, juga didukung oleh dasar negara Indonesai sendiri.

Namun, yang menjadi pokok persoalan adalah seringkali pernyataan mengenai perbedaan pendapat tersebut meruapakan sebuah kontradiksi dengan apa yang sudah menjadi dasar negara. Demokrasi memang tidak melarang keinginan setiap orang untuk menyatakan pendapatnya atau untuk berkumpul dan berorganisasi tetapi ada ada yang harus diingat bahwa demokrasi di Indonesia terletak dalam bingkai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

Tidak jarang kita mendengar wacana untuk membentuk Indonesia sebagai sebuah negara agama. Demokrasi memang tidak melarang pernyataan wacana ini. Namun, apakah ini sesuai dengan prinsip-prinsip dasar yang dianut saat negara ini terbentuk? Penyerangan rumah-rumah ibadah juga merupakan contoh nyata bagaimana intoleransi berkembang luas. Mungkin mereka menyatakan bahwa hal tersebut adalah wujud aspirasi mereka tetapi nampaknya mereka lupa dengan bingkai utama demokrasi di Indonesia.

Demokrasi yang menuntut sebuah pemerintahan yang lebih baik karena berprinsipkan dari, oleh, dan untuk rakyat juga sering menimbulkan permasalahan. Sebetulnya, Pancasila pun sudah mengamanatkan sebauh kesejahteraan sosial bagi rakyat Indonesia. Dengan adanya demokrasi, maka rakyat akan semakin menuntut kesejahteraan tersebut. Namun realitas berkata lain ketika akhir-akhir ini kita mendengar saudara kita di Nusa Tenggara sana sedang kelaparan dan kekeringan.

Jalan

Demokrasi yang dibangun sekarang di Indonesia bukan lagi saatnya untuk ditempatkan sebagai jalan untuk mengubah dasar negara yang sudah ada. Perbedaan pendapat memang sebuah hal yang patut untuk dihargai tetapi menjunjung tinggi dasar negara yang sudah ada harus lebih diutamakan. Demokrasi kini harus lebih berperan sebagai jalan menuju sebuah Indonesia yang dicita-citakan oleh para founding father kita. Jika founding fathers Indonesia telah menyadari betapa beragamnya Indonesia ini, demokrasi jangan dijadikan ajang untuk memudarkan keragaman tersebut. Lebih jauh lagi, demokrasi harus ditempatkan sebagai jalan untuk menuju masyarakat yang lebih memiliki toleransi.

Demokrasi sebagai jalan juga berlaku pada pemerintahan Indonesia. Demokrasi yang menjadikan masyarakat semakin kritis harus dijadikan momentum oleh pemerintah untuk mengubah keburukan-keburukan yang selama ini masih menempel. Hal ini tentunya kembali lagi untuk menjadikan Indonesia dengan warganya yang sejahtera sesuai dengan apa yang ada dalam Pancasila.

Menjalankan demokrasi di Indonesia yang selalu identik dengan kebebasan yang sebebas-bebasnya memang bisa berbahaya. Dasar negara yang telah diamanatkan dengan sangat baik bisa hancur karena demokrasi itu sendiri. Oleh karena itu, demokrasi di Indonesia harus dijalankan dalam bingkai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Tanpanya, Indonesia akan hancur dimakan demokrasi tanpa dasar.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membuat KTP Baru, Bisa Jadi Dalam Sehari! …

Seneng | | 22 October 2014 | 10:00

Angka Melek Huruf, PR Pemimpin Baru …

Joko Ade Nursiyono | | 22 October 2014 | 08:31

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Saksi Sejarah Bangsa …

Idos | | 22 October 2014 | 11:28

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Calon Menteri yang Gagal Lolos …

Mafruhin | 4 jam lalu

3 Calon Menteri Jokowi Diduga Terlibat Kasus …

Rolas Jakson | 4 jam lalu

Suksesi Indonesia Bikin Iri Negeri Tetangga …

Solehuddin Dori | 4 jam lalu

Bocor, Surat Penolakan Calon Menteri …

Felix | 5 jam lalu

Fadli Zon dan Hak Prerogatif Presiden …

Phadli Hasyim Harah... | 5 jam lalu


HIGHLIGHT

Senang Sama Visi Poros Maritim Dunia …

Cdt888 | 8 jam lalu

Sinyal “Revolusi Mental” Skuad …

F Tanjung | 8 jam lalu

Tantangan Membuat Buku Mini Kumpulan Puisi …

Den Bhaghoese | 8 jam lalu

Bakmi Mama Lie Ling …

Benediktus Satrio R... | 8 jam lalu

Borneo Menulis …

Anton Surya | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: