
Dibaca: 1934
Komentar: 28
2 dari 2 Kompasianer menilai Aktual
Membaca berita dari surat kabar Sumatera Ekspress minggu ( 07/03/2010 ) yang terbit di Palembang tergelitik hati penulis untuk mempostingnya di kompasiana. Dan kiranya dapat kita jadikan pelajaran.
Menurut surat kabar ini, Bunga ( sebut saja begitu ) seorang siswi SMP Negeri di Palembang telah melaporkan pacarnya berinisial KA ke poltabes Palembang dengan sangkaan KA tidak mau bertanggung jawab atas kehamilannya. Laporan tersebut tertuang dengan nomor laporan : LP/563-B/II/2010/TABES.
Ketika wartawan menyambangi kediaman Bunga, Ia terlihat lebih dewasa, tidak seperti siswi SMP kelas 3 kebanyakan. Perut ABG dengan kulit hitam manis ini sudah terlihat membuncit. ” Sudah sembilan bulan Pak, dokter bilang dalam minggu ini bisa melahirkan, “ ungkap ibunya, Linda ( nama disamarkan )
Kehamilan Bunga pertama kali diketahuinya ketika Bunga mengatakan tak lagi mengalami menstruasi, dua minggu lalu. Melihat perut anaknya yang telah membuncit Linda memeriksakan kondisi anaknya ke rumah sakit, diperoleh keterangan dari salah satu perawat bahwa anaknya telah mengandung dengan usia sembilan bulan.
Linda kemudian mendesak anaknya untuk mengaku siapa ayah dari bayi yang dikandungnya tersebut. Dari mulut Bunga meluncurlah nama KA, teman satu sekolah anaknya. Namun, baik Bunga dan KA diberhentikan dari sekolahnya tersebut tahun 2009 lalu. Bunga kemudian pindah kesekolah SMP negeri lainnya sedangkan KA memilih berhenti sekolah kemudian bekerja sebagai mekanik disebuah bengkel. ” Setahu saya memang KA itu yang sering main kerumah nemuian anak saya. Bersama suami, saya telah menemui paman dan bibi KA. Karena terlihat tidak ada respon untuk bertanggung jawab, maka kami melaporkan kejadian ini ke poltabes,” jelasnya. Dilanjutkan Linda, keluarganya hanya meminta pertanggung jawaban atas biaya persalinan Bunga. ditegaskan anaknya tidak mempunyai niat sedikitpun untuk menikah dengan KA. Alasannya masih terlalu muda dan ingin melanjutkan sekolah. Berdasarkan keterangan dokter dari RS BARI, tempat Bunga melakukan visum, Linda tampaknya memilih melakukan operasi caesar bagi anaknya. Dilihat dari biayanya memang cukup besar, berkisar Rp. 3 hingga 4, 5 juta. Tapi operasi ini dinilai cocok bagi Bunga untuk melanjutkan kehidupannya dimasa depan. Dengan Operasi caesar anaknya dapat segera pulih dari melahirkan kemudian mengikuti ujian nasional ( UN ) bulan depan.
Lalu bagaimana dengan nasib jabang bayi yang akan segera lahir tersebut ? Linda mengatakan bayi tersebut akan dititipkan dengan salah seorang keluarganya yang bermukim di kabupaten OKU dan telah lama tidak dikaruniai anak. Linda mengakui sulit membesarkan anak tersebut karena khawatir menjadi cibiran tetangga.maksudnya bayi tersebut lahir tanpa mempunyai seorang ayah.
Tanggapan keluarga KA
Selama ini KA tinggal bersama Paman dan bibinya, ibunya sejak lama bertugas sebagai perawat di Bali. Sejak mencuatnya kasus kehamilan Bunga, KA baru mengetahui kalau dirinya sebatas anak angkat. ” Kami tidak tahu siapa orang tuanya. Kakak perempuan saya mengambil KA dari rumah sakit karena orang tua KA tidak menebus KA setelah melahirkan. KA menangis sewaktu mengetahui statusnya itu, padahal dipukulpun biasanya dia tidak menangis,” ungkap Dewi, bibi KA kepada Sumeks Minggu. Akhir Februari lalu sebelum orang tua Bunga mendatangi keluarga Dewi, KA meminta uang sebesar Rp. 700.000,- kepada ibunya. Uang tersebut diduga untuk biaya persalinan Bunga. Namun permintaan KA tak kunjung dipenuhi oleh sang ibu. ” Karena KA mengamuk, kakak perempuan saya juga emosi. Tanpa sengaja tercetuslah statusnya KA itu,” ungkap Dewi. Dewi mengaku keponakannya itu sudah memiliki itikad baik. KA telah berjanji secara tertulis akan bertanggung jawab terhadap persalinan Bunga. Hanya saja biaya tersebut dibayar secara mencicil dari gaji KA setiap bulannya. Dewi mengaku bingung jika keluarga Bunga kemudian melaporkan KA ke polisi.
Disisi lain, Dewi meragukan kehamilan Bunga berasal dari benih keponakannya. Pasalnya, dari keterang KA dan Bunga, hubungan badan dilakukan mereka pada bulan November 2009 lalu. Artinya kehamilan Bunga baru berusia tiga bulan. Bukannya sembilan bulan seperti saat ini. Masalah lain Dewi mengatakan, KA dan Bunga diberhentikan dari sekoalh juga pada bulan November 2009. Alasannya perut Bunga sudah terlihat membesar seperti orang hamil. Pihak sekolah mengambil langkah aman dengan memberhentikan Bunga. KA ikut diberhentikan karena diketahui sebagai pacarnya Bunga.
Dalam pandangannya, tidak wajar jika orang tua Bunga tidak mengetahui keadaan anaknya yang telah hamil tersebut ” Maksudnya, kenapa baru sekarang dipermasalahkan. Kenapa tidak dari bulan November 2009 dulu. Masak sebagai orang tua yang melihat perkembangan anak setiap hari tidak tahu kalau anaknya sudah hamil, keterlaluan kalau baru tahu anaknya hamil sembilan bulan,” ucap Dewi. Apalagi sikap orang tua Bunga dinilai Dewi hanya fokus pada penggantian biaya persalinan dinilainya cukup aneh. ” Kalau kami nilai, harusnya mereka dinikahkan, walaupun sebatas nikah siri karena masih dibawah umur. Jadi, kalau nanti terbukti melalui test DNA anak dikandung itu bukan benih KA, keluarga mereka yang harus balik bertanggung jawab,” tandasnya.
Sumber berita : Sumatera Ekspress Minggu ( 07 Maret 2010 )