Politik
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
orang biasa yang mencoba peduli pada sekeliling...
Rusuh Makassar: Kenapa Harus Polisi
Fadli Noor
|  5 Maret 2010  |  09:29
189
32
3 dari 5 Kompasianer menilai Bermanfaat.

Dalam setiap aksi yang menentang pemerintah, hampir dipastikan gerakan mahasiswa di Makassar bentrok dengan aparat kepolisian. Gerakan mahasiswa di Makassar yang cenderung bertindak anarkis sebenarnya bukanlah merupakan gambaran prototype mahasiswa Makassar secara keseluruhan. Tindakan brutal sekelompok mahasiswa tersebut adalah upaya mempertahankan diri, atau lebih tepatnya sebagai upaya mempertahankan identitas dan panji-panji organisasi baik organisasi formal maupun front gerakan insidentil. Aksi yang dilakukan lebih tepat dikatakan narsisme jalanan dan bukan merupakan aksi yang menyuarakan aspirasi masyarakat. Para korlap yang turun ke jalan pun hanya itu-itu saja. Sebagian besar ‘pelaku’ politik praktis di Makassar sudah mengenal para korlap tersebut, demikian pula jajaran kepolisian.

Sumber-Sumber Negatif
Perkembangan demokrasi di Indonesia telah membuka ruang untuk menempatkan pejabat-pejabat publik sesuai pilihan masyarakat. Dengan premis ini, para aktor yang syahwat kekuasaannya sangat besar mengoptimalkan segala sumber daya dan jaringan untuk bisa memperoleh dukungan sebesar-besarnya. Pemilihan anggota legislatif, bupati/walikota serta gubernur yang dilakukan secara langsung mengharuskan para kandidat memiliki mesin suara. Dalam prakteknya mereka berusaha memiliki 4 basis jaringan yaitu : tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda serta preman. Tokoh masyarakat diyakini mampu menjadi gerbong kekerabatan dan kharisma sang tokoh untuk mendongkrak popularitas kandidat. Tokoh agama membangun pencitraan moral bagi kandidat, tokoh pemuda akan menjadi gerbong yang dinamis dan mampu melakukan kerja-kerja kasar, serta preman sebagai bumper pengamanan. Simpul-simpul ini akan terus bekerja termasuk gerbong pemuda. Tokoh pemuda yang biasanya alumni perguruan tinggi dan pernah menjadi aktivis mahasiswa mengoptimalkan kinerjanya dengan memanfaatkan adik-adiknya dari almamater dan organisasi pergerakan mahasiswa. Sejak itulah para mahasiswa terlibat politik praktis. Akibatnya bisa diduga, para mahasiswa yang berhasil memenangkan kandidatnya akan memiliki banyak keunggulan antara lain : memiliki link langsung kepada pejabat publik, memiliki back-up politik, memiliki informasi penting untuk mengoptimalkan pergerakan dan tentu saja bantuan pendanaan bagi perkembangan organisasi maupun kepentingan pribadi. Itulah sebabnya mengapa aksi mahasiswa Makassar selalu dilakukan oleh segelintir korlap meski dalam baju yang berbeda-beda, karena korlap tersebutah yang memiliki semua keunggulan di atas.

Kenapa Harus Polisi
Aksi mahasiswa Makassar yang selalu berakhir bentrok dengan polisi dimulai oleh sumber-sumber negatif di atas. Hampir semua aksi yang berakhir bentrok di Makassar belakangan ini, bukanlah isu lokal melainkan isu nasional. Nyaris tidak pernah ada aksi yang mengkritisi kebijakan lokal. Pendidikan dan kesehatan gratis yang tidak pernah terealisasi dari janji Gubernur pada pilgub 2007 lalu yang menyatakan dalam victory speechnya bahwa semua janji pilkada yang disampaikan akan direalisasi dalam 100 hari pemerintahannya sampai kini Nol Besar. Tapi tidak ada sepotong pun mahasiswa yang melakukan aksi menagih janji tersebut. Kasus pengalihan Karebosi, alun-alun kota ke pihak swasta yang menjadi temuan dalam LHP BPK dianggap merugikan negara, tidak ada mahasiswa yang mempersoalkan. Penggunaan listrik Trans Studio investasi JK & Chairul Tanjung sebesar 10 MW di saat Sulawesi Selatan  krisis listrik yang mengakibatkan pemadaman listrik rumah tangga 3 kali dalam sehari @ 3jam, juga tidak ada aksi mahasiswa. Fakta ini memperjelas bahwa simpul-simpul mahasiswa telah dikerangkeng oleh pemilik kepentingan.
Dinamika mahasiswa yang selalu butuh aktualisasi diri dan narsisme jalanan ‘mengharapkan’ lawan dalam setiap aksinya. Tapi karena isu yang diusung adalah isu nasional, hampir semua pejabat lokal menganggap tidak punya kepentingan terhadap hal tersebut sehingga memutuskan untuk tidak peduli. Akibatnya bisa kita saksikan di TV, polisi yang bekerja berdasarkan komando dari Jakarta atas isu nasional tersebut akhirnya terpancing dan terjebak  berkonfrontasi dengan mahasiswa yang ‘haus’ lawan, apalagi mahasiswa tidak memiliki kepentingan dengan pimpinan polisi. Kata seorang adik mahasiswa yang saya temui di sebuah warkop, “untuk apa berbaik-baik dengan polisi, toh mereka tidak bisa membantu dalam waktu lama karena mereka selalu dimutasi”. Nah lho. (FN)


Tags: mahasiswa, makassar, polisi

Sebarkan Tulisan:
Tanggapan Tulisan
5 Maret 2010 09:37
0

nice post bang..

5 Maret 2010 | 11:51
0

makasih Mas

5 Maret 2010 | 12:14
0

sama2 kanda..sy junior ta dikomunikasi..

5 Maret 2010 | 12:51
0

saya juga juniorta di komunikasi……

5 Maret 2010 09:49
0

tulisan yg menarik, paling tidak bisa dijadikan sbg referensi dan evaluasi pergerakan adik2 mahasiswa …. yg telah lalu dan akan datang …. salam kenal sarebattang

5 Maret 2010 | 11:51
0

salam kenal Bro, ini fakta coy

5 Maret 2010 09:49
0

Yah kalau seperti apa yang terlihat di Metro TV (yang sengaja menshot jelas-jelas dan disiar ulangkan berkali-kali) memang tidak pantas mahasiswa merobek-menginjak-injak dst Kalau selanjutnya mahasiswa berkilah mempertahankan diri, siapa sih yang berbuat anarkis duluan ? Apakah masyarakat (khususnya masyarakat Sulawesi) membenarkan tindakan mahasiswa yang brutal itu ?

5 Maret 2010 | 11:53
0

“Aksi yang dilakukan lebih tepat dikatakan narsisme jalanan dan bukan merupakan aksi yang menyuarakan aspirasi masyarakat”

sudah jelas dalam tulisan ini, masyarakat pun tidak memberi simpati atas aksi2 tersebut.

5 Maret 2010 09:51
0

“narsisme jalanan mengharapkan lawan” bagus ini mas,, :)

5 Maret 2010 | 11:53
0

namanya juga narsis mas, kalo gak dpt lawan, mana mau diblow up media

5 Maret 2010 10:14
0

Saya kutip kalimat ini kang…
“untuk apa berbaik-baik dengan polisi, toh mereka tidak bisa membantu dalam waktu lama karena mereka selalu dimutasi”
Ya mungkin dia lupa jika Polisi hanya menjalankan tugas dan Polisi juga manusia biasa yg punya perasaan…
Kasihan yaaa

5 Maret 2010 | 11:56
0

Point yang ingin sy tunjukkan adalah polisi bukan kawan yang bisa memfasilitasi perkembangan gerakan. Berbeda dengan pajabat publik yang semakin meningkat karirnya semakin besar pula bantuan untuk mahasiswa. Kalo polisi, jika karirnya meningkat akan pindah kota ke pos yang baru.

6 Maret 2010 | 18:55
0

berapa gaji polisi? tapi seringkali mereka menjadi bulan-bulanan mahasiswa….kasihan pak polisi……

5 Maret 2010 11:05
1

ulasan yang lagi2 meminta pembenaran. bukan..memaksakan pembenaran. oke deh..saya benarakan. puas?

jujur saja..5 - 10 tahun ke depan pemuda2 itu yg akan menggantikan orang2 tua yg mereka demo tersebut. dengan pemikiran sempit dan maksa seperti ini, kalau adik2 mahsiswa itu mau jadi pemimpin..jadilah pemimpin di daerah anda sendiri. toh anda berpikir parsial sebatas berguna tidak bagi daerah anda kan?

jangan pernah berpikir untuk mewakili rakyat indonesia, dengan beberapa kalimat di artikel ini..sangat tidak layak anda mengatasnamakan keseluruhan rakyat indonesia!

apakah warga sulawesi selatan juga merasa terwakili? entah..semoga bentrok mahasiswa - masyarakat itu tidak menjawab pertanyaan saya.

jujur aja muak liat omongan mahsiswa2 anarkis tersebut: NGELES, NGGA MAU DISALAHIN, MAU MENANG SENDIRI, dan maaf.. SOK EKSIS di Tipi. liat aja sendiri

*maaf belepotan dan tendensius

5 Maret 2010 | 12:03
0

Terlalu tendensius sampai ngga paham maksud tulisan ini.

Coba baca deh dari awal. Tulisan ini membedah mengapa pragmatisme & oportunisme mahasiswa tumbuh subur karena kepentingan politik pihak lain. Itulah mengapa isu lokal yang lebih terasa bagi masyarakat Makassar justru tidak pernah diperjuangkan oleh mahasiswa, karena mereka terlanjur ‘terbeli’ oleh penguasa lokal.

5 Maret 2010 12:28 via Mobile Web
0

Kalau gak anarkis tidak masuk TV, he he

5 Maret 2010 | 12:38
0

meminjam istilah yang dipopulerkan Yusran, “bad news is a good news”

5 Maret 2010 12:46
0

Mungkin dibutuhkan Temu Pergerakan Mahasiswa Makassar. Membahas juga Etik dalam Demontrasi Mahasiswa. Juga dengan Pers Makassar. Saya tidak yakin, kalau aksi damai tidak diliput. Makasar salah satu pintu utama Indonesia, sudah pasti suara dari sana selalu di dengar.

5 Maret 2010 | 12:50
0

sepakat bro, saya pikir harus seperti itu

5 Maret 2010 15:43 via Mobile Web
0

Tp sy msh heran, d Makassar mhsw jg biasa tawur antarfakultas atw UKM. Pemilhan presiden BEM pun bs berakhir ricuh. Jelas2 itu ga ada kaitannya dg kepentingan nasional atw pun lokal spt yg biasa diusung dlm demo.
D daerah laen, paling2 tawuran anak smp atw sma. Klo anak kuliahan sih jrng bgt dengr tuh

5 Maret 2010 16:33
0

Memang begitulah keadaan sekarang, Bang Fadli. Kita tidak lagi percaya atas kemurnian gerakan mahasiswa. Analisis yang bagus, Bang. :D

5 Maret 2010 | 17:27
0

tidak semua gerakan dikategorikan negatif…. memang mhs selalu di hina, namun klu terjadi perubahan mrk lantas memuci dan mendekati mhs dgn segela kepenitngan

SBY Dibalik Kekerasan dan Teror Bom

http://polhukam.kompasiana.com/2010/03/05/sby-dibalik-kekerasan-dan-teror-bom/

5 Maret 2010 18:50
1

wah ada yang terganggu nih rupanya ?
mahasiswa beberapa gelintir suka mengatas namakan seluruh mahasiswa, demikian juga wakil rakyat di senayan merasa wakil rakyat, tetapi nggak mau tahu kalau presiden dan wakilnya juga PILIHAN rakyat !

6 Maret 2010 18:40
0

Dalam kasus HMI vs polisi sudah di bentuk tim pencari fakta, semoga bisa menemukan sumber masalah dan solusi terbaik.
ketika aku melihat mahasiswa demo anarkis penuh nafsu mengganggu kepentingan umum dengan memblokade jalan dan merusak fasilitas umum, aku sangat marah!!! tidak ikut bayar pajak tapi bisanya mbakar, merusak dan memblokade jalan. membuat resah masyarakat. pinter berkoar tapi etika dan moral nol. ilmu apa yang dipelajari???? berteriak lantang, tangkap koruptor makan uang rakyat!!! malah mahasiswa sendiri merusak bangunan, mobil dll. yang dibeli dengan uang rakyat, apa bedanya??? bahkan menghadang, melarang dan memukul pembayar pajak yang melewati jalan yang di bangun dari uang rakyat. ada masalah dengan polisi dan pemerintah kok yang dirugikan dan dikorbankan kok rakyat yang mendanai pembangunan. mahasiswa…….katanya intelek buktinya cuma “telek” sampah!!!! pecundang!!!

6 Maret 2010 | 19:31
0

Energi dinamis mahasiswa memang sebaiknya dikelola dengan baik agar menghasilkan output yang jelas dan bermanfaat bagi masyarakat luas. Gerakan 1998 bisa menjadi contoh, saat mahasiswa memiliki musuh bersama berjudul otoritarian orde baru. Saat ini gerakan mahasiswa terutama di Makassar sangat bias dan tidak memiliki musuh bersama yang bisa merapatkan barisan sehingga yang muncul kemudian aksi insidentil yang kemudian diinfiltrasi oleh pemilik kepentingan jangka pendek.

6 Maret 2010 22:06
0

bukankah seharusnya tujuan yang baik harus dengan cara yang baik dan tidak menyengsarakan orang lain???? sepengetahuan dan se pengalaman saya para korlap dan mahasiswa yang jadi trigger bentrokan itu paling duluan menghilang ketika terjadi benturan….semua jadi kucing air…..8 tahun saya bergaul dengan manusia-manusia itu…..

7 Maret 2010 | 09:50
0

kita selalu menuntut pejabat yang bersalah untuk bertanggungjawab & mengundurkan diri, tp kok nda pernah ada korlap yang ngomong di media bahwa dia lah penanggung jawab setiap ada aksi yang berakhir rusuh.

7 Maret 2010 00:59
0

mas fadli
mungkin aja intelijen telah menyusup-menyamar jadi amhasiswa
untuk pemula aksi teror tsb..kabarnya aksi mahasiswa makasar
agak diperhatikan juga oleh Jakarta..

7 Maret 2010 | 09:48
0

Kemungkinan itu sangat besar Mas, mudah-mudahan bisa menjadi temuan TPF yang dibentuk Polda & KAHMI.

8 Maret 2010 02:50
0

kasihan dengan mahasiswa yang penuh idealis
kasihan juga dengan polisi yang cuma menjalankan tugas
kasihan juga dengan masyarakat yang terganggu
sayangnya cuma bisa bilang kasihan

9 Maret 2010 | 12:08
0

semua harusnya bisa menahan diri

Tulis Tanggapan Anda
Guest User
Search:
Kompasiana Muda Blogshop
Copyright 2008 - 2010