Politik
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
orang biasa yang mencoba peduli pada sekeliling...
Mengapa SBY Memilih Andi Arif & Velix Wanggai
Fadli Noor
|  28 Februari 2010  |  17:07
626
44
1 dari 1 Kompasianer menilai Aktual.

Hari-hari belakangan media diramaikan oleh berita aktivitas dua staf khusus presiden, yaitu Andi Arif & Velix Wanggai yang memainkan lobby-lobby politik untuk mempengaruhi keputusan pada sidang paripurna 2 Maret 2010 mengenai Kasus Bank Century. Tidak kalah ramainya adalah keberatan terhadap aktivitas kedua orang tersebut yang ditengarai keluar dari job description mereka sebagai staf khusus presiden. Andi membidangi masalah sosial sementara Velix menangani urusan otonomi daerah. Para kompasianers pun ramai-ramai unjuk opini mencermati hal tersebut.

Ada point penting yang ingin ditunjukkan oleh Presiden SBY mengapa kedua orang staf khusus tersebut ikut turun gunung.

  1. Presiden SBY ingin menunjukkan kepada pihak-pihak yang dilobby oleh staf khusus tersebut bahwa ini adalah pesan Presiden SBY. Beliau ingin menyampaikan, dalam bahasa Ruhut Sitompul “Bang, kau bantulah aku. Ini bukan persoalan Boediono semata. Kalo Sri Mulyani, gampanglah. Besok juga aku ganti. Tapi ini persoalan Boediono, wapres aku. Kemarin sesuai UU Pilpres, capres dan wapres itu satu paket Bang !. Satu kau makzulkan, tidak legitimate lah yang satunya. Apalagi kasusnya sebelum Pilpres. Kalo Boediono diputus bersalah oleh pengadilan nantinya, dan berlaku surut.. Matilah aku !!!“. Pemilihan staf khusus presiden sebagai representasi dirinya adalah langkah tepat untuk mengeliminir kerancuan apabila lobby dilakukan oleh politisi Partai Demokrat akan memunculkan kesan bahwa itu adalah lobby partai dan untuk kepentingan partai.
  2. Partai Demokrat selama ini menempatkan diri sebagai kekuatan tak tertandingi sehingga jika menggunakan politisi Partai Demokrat, akan meredupkan sinar partai kepada pihak-pihak yang dilobby. Efek psikologis juga dihindari apabila lobby mengarah kepada tokoh-tokoh partai lain karena akan muncul konflik kepentingan di parlemen serta perang pesona menyambut 2014.
  3. Suara-suara keras petinggi Partai Demokrat saat ini hanya dianggap angin lalu oleh partai lain. Ini akan berpengaruh terhadap publik yang bisa menenggelamkan Partai Demokrat pada pemilu yang akan datang. Partai menjadi kehilangan wibawa apalagi publik sudah melihat dengan jelas bagaimana Sekjen Partai Demokrat beserta beberapa Ketua DPPnya mencoba mengancam partai lain terutama dalam koalisi, namun tidak bergeming juga.

Dengan penggunaan staf khusus presiden, berbagai gesekan terhadap rambu-rambu partai bisa diabaikan dan lobby dilakukan secara personal. Pemilihan Andi Arif dan Velix Wanggai pun bukan secara kebetulan. Keduanya adalah orang yang sangat paham politik praktis. Andi Arif adalah mantan aktivis PRD yang menjadi korban penculikan pada 1998 lalu. Sementara Velix Wanggai juga mantan aktivis kampus, pernah menjadi Ketua Senat UGM menggantikan Andi Arif. Velix saat mahasiswa tergolong aktivis yang berani menabrak larangan pemerintahan Orde Baru saat pemberlakuan NKK/BKK yang membekukan Dewan Mahasiswa, ia malah mendirikan Dewan Mahasiswa UGM.

Hanya kedua orang itulah dalam jajaran staf khusus presiden yang memiliki kemampuan politik praktis meskipun job descnya tidak sesuai, namun Presiden SBY tentu tidak mungkin memilih staf khusus yang lain, Dino Pati Djalal, Denny Indrayana, Julian Aldrin Pasha, Heru Lelono, Daniel Theodore Sparingga, Mayjen TNI (Purn) Sardan Marbun, Prof Dr. Jusuf, Kol CAJ Dr Ahmad Yani Basuki Msi.


Sebarkan Tulisan:
Tanggapan Tulisan
28 Februari 2010 17:11
0

Banyak yach ternyata aktifis yang berpindah haluan

28 Februari 2010 | 17:16
0

what money can’t buy Bang ??

28 Februari 2010 | 18:21
0

tidak selalu uang lah ….. tapi kalau bisa bekerja demi bangsa dengan lebih baik dan mendapat gaji, mengapa tidak ? Ulasan yang bagus Pak Fadli …. cermat dan rasional.

28 Februari 2010 | 19:40
0

tentu uang yang berbicara, kalau mau tetap menjaga bangsa ini, tetap menjadi oposisi, seperti apa yang dikatakan soe hok gie, biar mereka yang naek (jadi pemerintah) tapi jiwa ini tidak bisa dibeli….

wah,,,ternyata..h trenyata…..

28 Februari 2010 17:18
0

kayaknya masih jauh nih soale dinamika politik suka tdk terduga gitu hehe

28 Februari 2010 | 20:41
0

betul mas ragil, rapat paripurna besok itu bukan akhir, tp baru permulaan pertarungan yang sesungguhnya

28 Februari 2010 17:24
0

Hmmmmmm……….Aku hanya berpikir, jika di tengah kepemimpinan nya RI 1 kita wafat………apa yang akan terjadi dengan Negara ini…….??………..RI 2 naik tahta…….?? Hmmmm………..atau negara ini tidak punya Pimpinan……….?? Hmmmmmm………

28 Februari 2010 | 17:47
0

Hmmmmm……. mba Imelda… apa situ merasa lebih pinter dari Pak Budiono hingga merasa Pak Bud gak mampu jadi RI 1??? Hmmmm… dasarnya apa Pak Bud gak mampu???

28 Februari 2010 | 20:43
0

semua ada mekanismenya Mba, RI-1 wafat atau berhalangan tetap akan diganti RI-2.
Kalo RI-2 tidak mampu menjalankan tugas berdasarkan UU yang berlaku, akan diganti oleh triumvirat (menlu, mendagri & menhan) hingga adanya pilpres..

28 Februari 2010 17:25
0

aktifs yang takut lapar dan takut mati. seperti si andi arif. dulu ngpmongnya anti kemapanan, anti abri, anti kapitalis. sekarang bergeser ke kanan, bukan hanya ke tengah

28 Februari 2010 | 20:46
0

zaman Gusdur, beberapa aktifis termasuk Budiman Sudjatmiko merapat ke pemerintah karena persamaan pandangan soal demokrasi. Namun mereka dianggap antitesis karena tidak ada aktifis kiri yang merapat ke pemerintah selama bukan pemerintahan kiri.

Sekarang lebih parah ya…

28 Februari 2010 | 23:25
0

Tukang sapu jalananpun punya hak mengungkapkan kebenaran yang ia ketahui. Apa dia harus jadi Anggota DPR baru boleh mengungkapkan kebenaran????

28 Februari 2010 17:41 via Mobile Web
0

Kalo benar ngomong benar, kalo salah ngomong salah. Lobi2 politik hanya cara untuk menipu rakyat, membenarkan yg salah atau menyalahkan yg benar.

28 Februari 2010 | 20:49
0

staf khusus presiden bidang bencana, jumpa pers soal pelanggaran hukum di Gedung Wantimpres, dan di akhir kalimat menyatakan “karena pelakunya adalah inisiator pansus century, secara moral pansus perlu dipertanyakan”… kira2 rakyat masih bisa dibodohi ngga ya ?? bahwa itu adalah intervensi langsung lembaga kepresidenan terhadap kasus century…

28 Februari 2010 | 23:19
0

Saat orang mengungkapkan kebenaran disalahin, saat orang menyalahkan yang benar, didukung. Apa sich maunya?. Mengapa bisa terjadi?????

28 Februari 2010 17:43
0

hahaha…jadilah orang yang pintar kalau mau terpilih…..tinggal tentukan jalur yang mau dipilih….dan kendaraan apa yang akan pakai…..toh lowongan pada saat ini masih banyak terbuka…hehehe

28 Februari 2010 | 20:49
0

he he he.. betul Mas, jangan bicara ideologi kalo masih pragmatis

28 Februari 2010 20:03
0

Rupanya staf khusus SBY banyak sekali , Tambun, pencitraan dan mana hasilnya sampai sekarang, bangsa tambah bangkrut , Salah urus - BravoTambun dan Salah Urus.

28 Februari 2010 | 20:50
0

sangat banyak Mas, belum termasuk yg silent operation

28 Februari 2010 21:56 via Mobile Web
0

Wah nyesel gw nyontreng demokrat kemaren,brati 2014 golput nih!

1 Maret 2010 | 08:32
0

mas arief gak nyesel sendiri kok, he he

28 Februari 2010 22:05
0

SBY balas budi pada kedua orang ini

28 Februari 2010 | 22:06
0

ralat: kedua orang ini balas budi terhadap SBY

1 Maret 2010 | 08:33
0

mereka saling balas budi,, sementara yang lain berbalas kasus

28 Februari 2010 22:11 via Mobile Web
0

Saya jg kaget waktu sby milih budiono,mudah2an bukan karena balas budi jg hehe

28 Februari 2010 | 23:10
0

Bukan SBY yang pilih Boediono, tapi Tuhanlah yang memilih Boediono melalui SBY. Saya pikir Tuhan tidak pernah salah menempatkan seseorang jadi pemimpin……, yang tidak terima mungkin dia lebih pintar dari Tuhan????????

1 Maret 2010 | 06:20
0

Mungkin Tuhan menempatkan seseorang sesuai dengan nasib yang harus dialami atau dipelajari oleh rakyat.

1 Maret 2010 | 08:36
0

@arief : SBY balas budi… ono

@Josseven & Pangat : Tuhan lebih pintar dari siapa pun, makanya Dia memilih SBY-Boediono bukan untuk SBY-Boediono, tp sebagai hukuman bagi rakyat

1 Maret 2010 | 08:36
0

@arief : SBY balas budi… ono

@Josseven & Pangat : Tuhan lebih pintar dari siapa pun, makanya Dia memilih SBY-Boediono bukan untuk SBY-Boediono, tp sebagai hukuman bagi rakyat

28 Februari 2010 23:18
0

parahnya lagi kedua orang itu telah melakukan korupsi coy, staf khusus itu kan pasti dibiayai pemerintah, uang negara donk masa uang sibabe (mana ada duit dia, wong kekayaannya pas diverifikasi KPU cm 8 M), nah yang satu staf khusus bencana/sosial yg satunya lagi staf khusus otda, tp minggu kmrn ngerjain proyek century,artinya korupsi donk???????????
wong digaji dgn job desc tertentu koq ikut ngobyek, korupsi bukan………………?

1 Maret 2010 | 09:04
0

betul coy, andi arif jumpa pers soal kasus hukum misbakhun di kantor wantimpres. apa itu bukan korupsi ya??.. waktu kerja & fasilitas negara digunakan tidak sesuai peruntukannya

1 Maret 2010 | 11:20
0

saat ini definisi korupsi masih sebatas “memperkaya diri sendiri atau orang lain” jadi kasus andi arif dan felix wanggai ya bukan korupsi namanya..INILAH WEJANGAN YANG SELALU DICEKOKKAN KEPADA MASYARAKAT. jadi dalam kasus BC SMI dan B jelas tidak bersalah karena tidak memperkaya diri sendiri maupu orang lain malah demi menyelamatkan perekonomian indonesia.. gitu kan dalihnya…

1 Maret 2010 06:21
0

Andi Arief merepresentasikan siapa dan watak sebenarnya SBY, seperti Ruhut merepresentasikan siapa atau seperti apa isi perut Partai Demokrat

1 Maret 2010 | 09:02
0

iya ya… tak terbantahkan

1 Maret 2010 07:26
0

semua aktifis berdasarkan sejarah sejak thn 65 sampai sekarang sama saja kok, kalau belum dapat jabatan pada ngomong besar dan nyaring kayak kaleng rombeng begitu dapat jabatan dan kedudukan enak pada diam menikmati …..
waktu 65 pada ribut nurunin sukarno dukung suharto, dapat uang dan jabatan walau suharto salah dibela mati2an, 98 juga begitu mega salah dibela, sekarang juga yang ributkan yang belum dapat jatah dan yang haus kekuasaan saja, cuma mendompleng mahasiswa. karena kalau maju sendiri tanpa kekuatan masa siswa kagak punya nyali….

1 Maret 2010 | 09:02
0

he he betul bang

1 Maret 2010 11:54
0

Siapapun kawan kita yang dua ini…. yang penting bersikap wajar demi Bangsa dan Negara
Saya sudah lihat talk shownya di TV One…… Indonesia sedang berproses, memanggil putra-putrinya untuk menjadi Pemimpin masa depan…. Apa bedanya dengan sdr. ANAS URBANINGRUM, kasus KPU
Nah, mungkin kedepan…. jangan terlalu ditanamkan Filsafat Huruf Jawa,
Ditaling….Dipepet….. Tetap BUNYIIIIIIIIIII….. setelah dipangkuuuuu……. BARU DIAM…..He,he
Selamat menikmati Lobi Politik.

1 Maret 2010 | 12:54
0

he he he.. sepakat !!!

2 Maret 2010 03:31
0

kalau saya sih menganut pemahaman,> sesuatu itu tergantung dari siapa yang mengucapkan.
contohnya, saya mengucapkan sesuatu yang memiliki makna tinggi, tapi pasti orang banyak tak percaya,s ebab saya ini bukan siapa-siapa atau reputasi saya tak terukur.
beda kemudian yang mengucapkan seorang ulama, ustadz, bupati, gubernur, pasti kan orang akan bertepuk tangan.]nah, begitu kira-kira itu andi arif. saya kenal kok si andi. minimal kenal sebab dia itu kelompok kiri yang demo anti kemapanan, sampai pernah ditahan.
pemilu 99 pernah masuk caleg tapi ndak dapat lolos karena PRD memang tak mendapatkan satu kursi pun.
nah, sekarang dia kaya raya. konon katanya komisasris perusahaan, dan sekarang nempel sama SBY MANTAN MILITER YANG MEREKA DEMO DAHULU.
yang jelas orag seperti ini tak layak saya percaya. walau benar yang dia katakan pasti saya kurang percaya, apalagi memang kura masuk akal.
orangnya saja karakternya begitu. apa dia masih ingat teman-temannya yang demo dulu.

2 Maret 2010 | 09:18
0

betul mas, dulu pernah jadi Komisaris BUMN PT Pos, sekarang jadi staf khusus jenderal..

25 Maret 2010 10:59
0

jadi itulah taktik jitu orang yang mau dapat kedudukan/jabatan awalnya ajak orang demo/ribut2 setelah diberi kedudukan malah kebalikannya menyalahkan orang yang berdemo. nach hati2lah kita dengan orang yang seperti ini yang tidak punya pendirian yang ingin selamatkan diri sendiri.

6 April 2010 | 18:55
0

ya ya ya, kemarin ribut karena lapar..
sekarang ????

6 April 2010 11:32
0

Bukannya karena di PD banyak kutu loncat dan merasa paling loyal dan paling membela dengan politik ancam mengancam????

6 April 2010 | 18:57
0

sejak pilpres 2004, SBY paling jago membuat departemen dalam tim-nya. masing masing punya porsi dan tidak boleh trespassing dalam implementasi.
pada pilpres 2009, tim pemenangan SBY itu ada 11 tim.

sekarang pun seperti itu, lain peran politisi demokrat, lain pula peran staf khusus.

Tulis Tanggapan Anda
Guest User
Search:
Kompasiana Muda Blogshop
Copyright 2008 - 2010