Artikel

Politik

Fadli Noor

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

orang biasa yang mencoba peduli pada sekeliling...

Mengapa SBY Memilih Andi Arif & Velix Wanggai


OPINI | 28 February 2010 | 17:07 Dibaca: 1562   Komentar: 44   1 dari 1 Kompasianer menilai Aktual

Hari-hari belakangan media diramaikan oleh berita aktivitas dua staf khusus presiden, yaitu Andi Arif & Velix Wanggai yang memainkan lobby-lobby politik untuk mempengaruhi keputusan pada sidang paripurna 2 Maret 2010 mengenai Kasus Bank Century. Tidak kalah ramainya adalah keberatan terhadap aktivitas kedua orang tersebut yang ditengarai keluar dari job description mereka sebagai staf khusus presiden. Andi membidangi masalah sosial sementara Velix menangani urusan otonomi daerah. Para kompasianers pun ramai-ramai unjuk opini mencermati hal tersebut.

Ada point penting yang ingin ditunjukkan oleh Presiden SBY mengapa kedua orang staf khusus tersebut ikut turun gunung.

  1. Presiden SBY ingin menunjukkan kepada pihak-pihak yang dilobby oleh staf khusus tersebut bahwa ini adalah pesan Presiden SBY. Beliau ingin menyampaikan, dalam bahasa Ruhut Sitompul “Bang, kau bantulah aku. Ini bukan persoalan Boediono semata. Kalo Sri Mulyani, gampanglah. Besok juga aku ganti. Tapi ini persoalan Boediono, wapres aku. Kemarin sesuai UU Pilpres, capres dan wapres itu satu paket Bang !. Satu kau makzulkan, tidak legitimate lah yang satunya. Apalagi kasusnya sebelum Pilpres. Kalo Boediono diputus bersalah oleh pengadilan nantinya, dan berlaku surut.. Matilah aku !!!“. Pemilihan staf khusus presiden sebagai representasi dirinya adalah langkah tepat untuk mengeliminir kerancuan apabila lobby dilakukan oleh politisi Partai Demokrat akan memunculkan kesan bahwa itu adalah lobby partai dan untuk kepentingan partai.
  2. Partai Demokrat selama ini menempatkan diri sebagai kekuatan tak tertandingi sehingga jika menggunakan politisi Partai Demokrat, akan meredupkan sinar partai kepada pihak-pihak yang dilobby. Efek psikologis juga dihindari apabila lobby mengarah kepada tokoh-tokoh partai lain karena akan muncul konflik kepentingan di parlemen serta perang pesona menyambut 2014.
  3. Suara-suara keras petinggi Partai Demokrat saat ini hanya dianggap angin lalu oleh partai lain. Ini akan berpengaruh terhadap publik yang bisa menenggelamkan Partai Demokrat pada pemilu yang akan datang. Partai menjadi kehilangan wibawa apalagi publik sudah melihat dengan jelas bagaimana Sekjen Partai Demokrat beserta beberapa Ketua DPPnya mencoba mengancam partai lain terutama dalam koalisi, namun tidak bergeming juga.

Dengan penggunaan staf khusus presiden, berbagai gesekan terhadap rambu-rambu partai bisa diabaikan dan lobby dilakukan secara personal. Pemilihan Andi Arif dan Velix Wanggai pun bukan secara kebetulan. Keduanya adalah orang yang sangat paham politik praktis. Andi Arif adalah mantan aktivis PRD yang menjadi korban penculikan pada 1998 lalu. Sementara Velix Wanggai juga mantan aktivis kampus, pernah menjadi Ketua Senat UGM menggantikan Andi Arif. Velix saat mahasiswa tergolong aktivis yang berani menabrak larangan pemerintahan Orde Baru saat pemberlakuan NKK/BKK yang membekukan Dewan Mahasiswa, ia malah mendirikan Dewan Mahasiswa UGM.

Hanya kedua orang itulah dalam jajaran staf khusus presiden yang memiliki kemampuan politik praktis meskipun job descnya tidak sesuai, namun Presiden SBY tentu tidak mungkin memilih staf khusus yang lain, Dino Pati Djalal, Denny Indrayana, Julian Aldrin Pasha, Heru Lelono, Daniel Theodore Sparingga, Mayjen TNI (Purn) Sardan Marbun, Prof Dr. Jusuf, Kol CAJ Dr Ahmad Yani Basuki Msi.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: