Politik
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
orang biasa yang mencoba peduli pada sekeliling...
Mengapa Gerindra Berpaling
Fadli Noor
|  25 Februari 2010  |  12:29
562
47
Nihil.

Ada yang aneh dalam pembacaan rekomendasi Pansus Century oleh Fraksi Gerindra. Sejak awal pemerintahan Fraksi Gerindra bersama dengan Hanura dan PDIP telah memposisikan diri menjadi oposisi dan memilih tidak bergabung dalam pemerintahan. Salah satu alasan ketidaksertaan Gerindra dalam pemerintahan adalah pandangan bahwa ekonomi Indonesia dalam pemerintahan SBY lebih kapitalis daripada negara kapitalis. Namun justru dalam pembacaan rekomendasi akhir Gerindra memilih untuk tidak menyebut nama pihak-pihak yang bertanggung jawab atas pencairan dana bail-out 6,7 trilyun. Beberapa fakta berikut dapat menjadi benang merah mengapa Gerindra yang sangat garang berada di luar pemerintahan tiba-tiba memilih bersikap lunak.

  1. Sejak Sjafrie Sjamsuddin diangkat menjadi Wakil Menteri Pertahanan sudah mulai nampak bahwa SBY sedang berusaha menekan sepak terjang Prabowo dengan memasang partner Prabowo dalam lingkaran pemerintahan. Sjafrie yang oleh berbagai pihak termasuk KontraS dianggap sebagai salah satu pihak yang bertanggungjawab terhadap beberapa kasus pelanggaran HAM berat, seperti peristiwa penculikan aktivis 1997/1998, peristiwa Mei 1998 dan peristiwa Trisakti merupakan orang dekat Prabowo yang saat menjadi Danjen Kopassus terbentuk Tim Mawar yang menculik beberapa aktifis. Indikasi keterlibatan Sjafrie dalam pelanggaran HAM tersebut juga dianggap menjadi dasar bagi pemerintah Amerika Serikat yang menolak memberikan visa bagi Sjafrie saat akan menemani SBY ke Amerika Serikat.
  2. Andi Arif bersama Desmond Junaidi Mahesa adalah dua diantara beberapa korban penculikan Tim Mawar. Andi Arif adalah mantan Komisaris PT Pos yang saat ini menjadi staf khusus presiden sementara Desmond menjadi anggota DPR dari Partai Gerindra. Desmond sebelumnya adalah Sekertaris Fraksi Gerindra yang kemudian dicopot setelah bersuara keras soal pemakzulan presiden.
  3. Menjelang pembacaan kesimpulan akhir pansus, pada 19 Februari 2010 Ikatan Keluarga Orang Hilang (IKOHI) mendatangi Mako Kopassus CIjantung bersama beberapa keluarga korban 1998. Mereka datang untuk mencari keluarga mereka namun oleh Kopassus dinyatakan tidak ada di sana dan tidak tahu berada dimana. IKOHI dipimpin oleh Mugiyanto yang merupakan aktifis PRD sama dengan Andi Arif. Sehari sebelumnya (18 Feb 2010) Kontras juga mengeluarkan pernyataan sikap yang mendesak SBY untuk menjalankan rekomendasi DPR (2004-2009) terkait kasus penghilangan orang secara paksa yang terjadi pada 1997-1998 silam.

Dari fakta-fakta tersebut, nampak jelas peran Andi Arif sebagai orang SBY yang mencoba menekan Gerindra melalui kasus HAM yang bisa menyeret Prabowo ke persidangan. Adanya Sjafrie Sjamsuddin dalam link SBY juga memiliki peran penting dalam menyuplai informasi dan merangkai puzzle tragedi 1998. Jika Presiden SBY mau menyeret Prabowo ke persidangan, dia dengan mudah melakukannya karena saksi hidup masih ada dan berada di lingkarannya serta dukungan organisasi masyarakat sipil seperti Kontras dan IKOHI dimana Andi Arif memiliki hubungan yang sangat dekat. Jika persidangan di Indonesia gagal menjatuhkan hukuman bagi Prabowo, maka Prabowo dapat diseret ke Mahkamah Internasional untuk kejahatan kemanuasiaan melalui mekanisme Statuta Roma.

Politik transaksional nampaknya akan tetap memayungi alam demokrasi Indonesia. Kita tunggu saja sikap Fraksi Gerindra dalam sidang paripurna soal Century tanggal 02 Maret nanti.


Tags: Bank Century, Prabowo, Pansus, Gerindra

Sebarkan Tulisan:
Tanggapan Tulisan
25 Februari 2010 12:41
0

jalan satu2nya: Duduki aja gedung DPR seminggu… selesai semuanya tuh :D

25 Februari 2010 | 12:50
0

mantab,, aku dukung bang

1 Maret 2010 | 10:47
0

Mas Faizal sanggup bayar berapa banyak org untuk menduduki gedung DPR ?

25 Februari 2010 12:46
0

Semula Gerindra membawa harapan, tapi sekarang hopeless deh

25 Februari 2010 | 12:51
0

berharap pada politisi yang tidak tersandera masa lalu

25 Februari 2010 12:54
0

Dalam politik memang dibutuhkan manusia berhati baja, apalagi kalau sudah menghadapi tekanan-tekanan. Bagi yang tidak sanggup menghadapi tekanan sebaiknya mundur saja. Politikus yang memble jangan diharapkan. Karena itu, kita lihat kesimpulan akhir hasil pansus kasus Bank Century, partai-partai yang memble kita depak untuk masuk kotak, karena kita memang tak lagi butuh peran mereka.

25 Februari 2010 | 12:56
0

Parpol gagal memberi pendidikan politik bagi masyarakat sesuai amanat UU 2/2008 tentang Parpol. Ditunggu peran kompasianer memberi pencerahan politik bagi masyarakat.

Salam

25 Februari 2010 13:16
0

walah tambah runyam aja negri ini…

25 Februari 2010 | 13:27
0

emang dah runyam pak, he he

25 Februari 2010 13:23
0

pembacaan lingkungan yang menarik mas..
salam

25 Februari 2010 | 13:27
0

ngga ada asap kalo ngga ada apinya mas

salam

25 Februari 2010 13:38 via Mobile Web
0

Salam kenal mas fadli, menarik sekali analisisnya. Tidak heran juga ada perubahan di gerindra yg semula memang mau oposisi ternyata ngga kuat juga yah

25 Februari 2010 | 13:49
0

Taruhannya terlalu besar mas, he he he
Indonesia yang menjadikan figur sebagai pondasi bisa merontokkan Gerindra kalo pendirinya masuk penjara.

salam kenal juga mas.

25 Februari 2010 13:51
0

gerindra ditekan oleh aksi Ham nya prabowo,… golkar ditekan oleh pajaknya ical,… pks ditekan oleh lc fiktif century,… ayo kita bubarkan demokrat dan bongkar pemerintahan sby,…

kalo mau bener dan maju , gak usah pake bargaining kayak gitu,…. bongkar bongkar aja, jangan mentang mentang ketauan maling century dan aliran dana nya, jadi bongkar kasus partai yg lain,..

25 Februari 2010 | 13:55
0

Menunjukkan bahwa kebusukan yang diketahui selalu disimpan dulu untuk dijadikan alat penekan.
Jika pemerintahan kita seperti ini terus, berhentilah berbicara soal pemerintahan bersih…

1 Maret 2010 | 10:49
0

Sudah tahu aliran dana century lari kemana ? Pansus dengan kaca pembesarnya saja gagal menemukan aliran dana ke parpol. Yg ketemu malah rekening Emir Moeis & L/C Fiktifnya Misbakhun.

25 Februari 2010 14:26
0

itulah klo orang menjadi politisi tapi punya dosa dimasa lalu maka siap2 saja dosanya dieksploitasi oleh lawan untuk melemahkan…

25 Februari 2010 | 21:23
0

banyak elite kita emang tersandera masa lalu….

25 Februari 2010 14:38
0

Bila pola begini terus sangat sedikit yang bisa diharapkan akan ada perbaikan, karena mereka menjadikan berbagai hal kepentingan rakyat hanya untuk mendulang suara dan membuat janji kosong. Maka oleh karena itu pilihan tidak ada dan tak lain harus melakukan harus menentukan sikap yang jelas. Membiarkan tetap begini atau cukup berhenti sampai disini.

25 Februari 2010 | 21:25
0

mau golput tapi keburu diharamkan oleh MUI…
tp nunggu MUI keluarkan fatwa soal nikah siri & poligami, kok gak berani ya ?? padahal itu nyata2 domain agama, he he

25 Februari 2010 16:20
0

Oposisi atau oh posisi ya? Mantap mas. Kita lihat minggu depan seperti transaksinya hehehe

25 Februari 2010 | 21:25
0

penonton kebagian fee ngga ya ???

25 Februari 2010 17:03
0

Saya juga curiganya itu. :(

25 Februari 2010 | 21:25
0

he he he, mari awasi…

25 Februari 2010 17:10
0

waspadalah…. militerisme mau berkuasa lagi…..!!!

25 Februari 2010 | 21:26
0

tolak militerisme !!!

25 Februari 2010 17:12
0

Kalo mengutip puisi dari Wiji Tukul, cuma ada satu kata…LAWAN!!!!

25 Februari 2010 | 21:26
0

mari kita lawan Bung !

25 Februari 2010 20:05
0

kalau istilah dulu itu namanya politik dagang sapi…
masih juga berlaku saat ini…

25 Februari 2010 | 21:27
0

untung bukan dagang kerbau, ngga boleh tuh mas… apalagi kalo dagangnya di bunderan HI

25 Februari 2010 20:28
0

tutup saja atau bubarkan gerinda…

25 Februari 2010 | 21:27
0

biarkan rakyat menilai…

25 Februari 2010 21:07
0

Syukur, kalau Gerindra mau berpaling kepada Demokrat dan PKB, berarti sudah menyadari segala kelebihan dan kekurangannya; semoga PKS dan Golkar mau menyadari, dan instropeksi diri. Kalau PDI dan Hanura sih tidak perlu ana fikirkan, karena mereka adalah oposisi group.
Apa yang dibicarakan disini adalah relatif, bisa anda benar dan salah; anapun bisa salah bisa pula benar. Membaca Century haruslah dilihat secara konprehensif : Dari sisi Pemerintah ( BI, KSSK, LPS) dari sisi Kedewanan : kepentingan 9 fraksi; 9 anggota penggagas, koalisi, oposisi ; Dari sisi rakyat (rakyat dalam artian keseluruhan), nasabah Bank (deposan/kreditur) ; debitur bukan nasabah bank, pemegang saham, tokoh masyarakat dan masyarakat lainnya. Keuangan/LPS : tafsiran UU, dilihat dari sumbernya, peruntukannya, status LPS dll bisa anda elaborasikan kemudian baru kita klasifikasikan, identifikasi, dst. dimana titik persamaan dan perbedaan.

25 Februari 2010 | 21:31
0

Masalahnya memang kompleks Mas, namun selalu ada pilihan terbaik dari berbagai kemungkinan terburuk bukan ??
Yang problem adalah kebijakan bail-out tidak dicompare dengan alternatif lain sebagai benchmarking, sehingga menjadi makanan politik di pansus…

25 Februari 2010 22:27
0

Kalo ada seseorang yang mengetahui sebuah kebenaran dan menyembunyikan kebenaran hanya untuk senjata melawan orang tersebut, berarti dia telah menyembunyikan sebuah kebenaran demi kekuasaan.
Jika memang seperti uraian di atas, bahwa sebetulnya pada tingkat elit mengetahui sebuah kebenaran tentang kasus 1998, tapi tidak mengungkapkan kebenaran itu, hanya di jadikan senjata untuk menakut-nakuti saja.
Apakah pantas orang tersebut di percaya….?
Apakah pantas menerima amanah…..?
Apakah pantas untuk di jadikan panutan….?
Apakah masih pantas untuk di percaya…..?
Menurut cerita di atas, berarti Presiden mengetahui, serta mempunyai bukti keterlibatan orang-orang tertentu pada kasus 27 Juli 1998. Tapi kenapa tidak di ungkap, kenapa tidak di bawa ke persidangan, ke pengadilan….?
Saya merasakan kesedihan para keluarga korban 98 jika membaca uraian di atas.

26 Februari 2010 | 13:48
0

Seorang militer tetaplah seorang militer. Anda tahu bung, doktrin militer… semangat korps semua itu menyatu dalam jiwa yang diselimuti panji-panji korps.

SBY bukan tidak punya dosa politik saat masih militer aktif. Jabatannya sebagai aster kodam pada kerusuhan 27 juli (kasus kudatuli) di kantor PDIP tentu menjadi tanggungjawab jabatannya. Semua petinggi militer tahu dan mereka juga menyimpan informasi itu.

SBY tidak mungkin mengkhianati TNI jika ingin karir politiknya langgeng. Belum lagi saat ini adik iparnya Mayjen TNI Pramono Edhie Wibowo yang menjabat Pangdam SIliwangi memiliki kans besar untuk menjadi AD-1.

Jika dia membuka kasus-kasus yang melibatkan perwira TNI, yakin saja semua karir militer keluarganya termasuk anaknya akan terkubur bersama dirinya…

Inilah konsekwensi bangsa jika militer tidak ditarik ke barak. Kepentingan militer ikut mempengaruhi kebijakan politik negeri ini.

Salam

1 Maret 2010 | 21:40
0

sy setuju thdp apa yg dikatakan bung fadli, tp sy jg membacanya bukan hanya dr faktor permasalahan kasus masa lalu yg berasal dr militer, tp jg berbagai segi, termasuk kepentingan2 ekonomis dr berbagai kalangan spt, aset keluarga, kepentingan pengembangan bisnis kalangan tertentu, dsb. hal demikian bertujuan agar menjadikan gaya analisa yg ditanggap dr kasus spt ini menghasilkan pandangan politik secara makro…baik si a, si b, si c, dan seterusnya. dengan demikian bs menggambarkan geliat serangan yg mereka lakukan satu sama lain. dan pada akhirnya, politisi itu penuh dengan kepentingan, siapapun dia, dan dari bendera apapun partai politiknya penuh dgn kepentingan2 masing. tentunya, masing kubu mempertahankan kepentingannya masing dengan menyerang dan mematahkan posisi lawan satu sama lain.
makanya sampe skrg sy tidak ingin bersikap mendukung atw tidak dlm kasus century, krn baik Golkar, PKS,,bahkan PD, dan yg lainnya pastinya mendukung kepentingannya masing2. pada akhirnya, prinsip demokrasi hanya terpasung pada tataran teoritis saja, tp pada praktiknya pemaknaannya telah diselewengkan menjadi “demokrasi kepentingan tertentu”…

25 Februari 2010 23:51
0

Salam kenal Mas Fadli..

Sejak awal berdirinya, saya sudah curiga dng Partai ini…tampilan luar memang cukup memukau..apalagi bagi Wong Cilik…basis masa PDIP.
Syukurlah ada kasus Century…ketahuan juga “belangnya” bukan…hehehe…

26 Februari 2010 | 13:55
0

Saya berpositif thinking aja Mas.
Prabowo mungkin ingin menebus kesalahan masa lalu dan berniat membangun bangsa melalui parpol. Niat itu dikomunikasikan kepada para korban penculikan yang akhirnya jatuh cinta pada program Prabowo (sidrom stockhlom). Tapi karena dia menjadi ancaman bagi SBY, digunakanlah kasus HAM sebagai alat penekan untuk berada di lingkar pemerintahan.

Salam kenal juga Mas Damianus.

26 Februari 2010 15:00
0
28 Februari 2010 06:51
0

bagus gerindra sdah melunak..lagi mau dibawa kemana negara ini klo suara barisan sakit hati didengarin..diluar sana rakyat gak peduli dg politik,rakyat mau indonesai yg aman dan mudah buat mencari rejeki.titik…

28 Februari 2010 11:20
0

ternyata negara ini sudah sangat runyam……..

28 Februari 2010 14:36
0

Bung !

Tulisan yang informatif — tunggu tanggal 2 a 3 Maret.
Kemana trend penyelesaian,
Trims !

1 Maret 2010 10:34
0

keren kang tulisannya….
Kita nantikan langkah selanjutnya….
Hutang politik di bayar kompromi….
Punya analisa tentang Andi Arief dan Misbakhun (Kader PkS)…???

1 Maret 2010 22:33
0

sy pernah kagum ma AA dan Bdman sjtmiko ketika di PRD…idealis…(kale belom dapet kesempaten ja) .NOW….maaf,…denger namanya ja DAH MALES dan MULES ….. Lam kenal dari gunung

2 Maret 2010 | 09:16
0

he he salam kenal juga bang

Tulis Tanggapan Anda
Guest User
Search:
Kompasiana Muda Blogshop
Copyright 2008 - 2010