
saya adalah warga kebanyakan yang senang kalau bisa belajar dari orang-orang yang pandai dan senantiasa bijak dalam kehidupan. Karena itu saya bergabung dalam blog Kompasiana. Urbanis Bekasi yang berasal dari Bandung Asli Putra Sunda. Pekerjaan: UI maksudnya Udar Ider, sekali-kali nyambi jadi penyiar di Radio Dakta 107 FM, setiap jumat, sekedar menyalurkan hobi. Untuk menemui saya tidak lah terlalu sulit. Tinggal klik www.harunalrasyid.com
Dibaca: 760
Komentar: 18
1 dari 3 Kompasianer menilai Inspiratif
Dalam suatu kesempatan kopi darat dengan para facebooker muda yang sedang giat menggagas “Sejuta Buku untuk Anak tidak Mampu“, saya katakan bahwa apa yang mereka lakukan adalah bagian dari implementasi Pancasila. Bagi saya perkataan itu adalah hal yang biasa, tapi jawaban mereka membuat saya tertegun dan terheran-heran. “Apaan itu, om ?”, jawab salah seorang dari kumpulan anak muda ini yang kebetulan adalah keponakan saya.
Respon mereka mendorong saya bertanya-tanya lebih lanjut tentang apa yang mereka peroleh di bangku sekolah dan dalam kehidupan sehari-hari berkaitan dengan pelajaran Pancasila. Mereka mengakui bahwa selama sekolah sampai kuliahan, tidak pernah bersentuhan dengan pelajaran Pancasila secara khusus. Kalau pun toh ada, pelajaran itu sangat membosankan dan dianggap hanyalah pelengkap penderita bagi para siswa. Begitulah kata mereka !
Risau ? Ya, pasti lah ! Ketika membayangkan akan munculnya sikap apatisme akut generasi yang akan datang terhadap negeri yang dikenal sebagai INDONESIA.negeri yang didoengengkan gemah ripah loh jinawii tu Saat ini saja kata-kata “Emang Gue Pikirin“, kerap saya dengar ketika generasi sekarang seperti saya dihadapkan pada persoalan kebangsaan.
Pancasila dan penguatan nasionalisme dianggap bukan hal yang penting dibandingkan dengan pelajaran matematik, fisika, akuntansi dll. Mungkin materi pelajaran ini pun hanya disimpan di rak buku paling bawah. Kalau dibuka, tulisannya sudah tidak terbaca lagi karena tertutup debu yang tebal. Bahkan partai politik pun malu-malu mengakui ideologinya Pancasila. Kita baru tersulut emosi nasionalismenya, ketika gambar Garuda Pancasila yang salah menengok menjadi gambar kaos keluaran Armani. Jadi, selama ini kita ke mana saja ?
Bagaimana sikap para pengambil keputusan di negeri ini ? Dalam setiap pidatonya, para pejabat negara setingkat menteri atau di bawahnya sering mengutip dan menyinggung soal Pancasila. Bahkan Pidato Presiden yang sarat dengan makna dan simbol, tidak pernah lupa menyinggung Pancasila dengan berapi-api. Pa SBY tidak jarang menasehati agar para demonstran berprilaku Pancasilais. Mungkin beliau gundah karena mendengar para demonstran sangat bersemangat menurunkannya dari kursi kepresidenan. Itu perbuatan yang tidak Pancasilais dan melanggar UUD 45. Begitu lah kira-kira Bapak Presiden berkata-kata.
Namun ibarat jarak antara langit dan bumi. Sampai saat ini saya belum pernah mendengar ada kebijakan yang sangat luar biasa dari pemerintah untuk memperkuat atau membumikan ajaran Pancasila di kalangan warganya, terutama anak-anak sekolah. Seolah-olah Pancasila hanyalah penghias bibir yang terasa sangat manis ketika dihadapkan pada kata-kata pahit para demonstran.
Tiba-tiba saya dikagetkan dengan bisikan istri ku tercinta yangberkata dengan lirih, “Mungkin Bapak-bapak nun jauh di atas sana, sedang sibuk menikmati jalan-jalan dengan mobil barunya yang super nyaman, sehingga tidak sempat memikirkan negeri ini. Apalagi memikirkan implementasi Pancasila yang dirasakan sangat rumit dan berat !”. Hmmm…kalau begitu ya sudah !
Memang kondisi sekarang sangat berbeda jauh dengan zaman saya sekolah yang saat itu sangat kental dengan aroma racikan intimidasi ala rezim Orde Baru (Orba). Semua siswa sekolah, sebelum mulai pelajaran diwajibkan mengikuti penataran P4 tanpa kecuali (waduh….saya lupa apa yah kepanjangan dari P4 itu ?). Bahkan ketika status saya meningkat menjadi mahasiswa, sebelum memulai kuliah semester pertama, diwajibkan terlebih dahulu mengikuti P4 selama 24 jam.
Walaupun pada saat penataran, saya lebih banyak membaca buku Kho Ping Ho ketimbang mendengarkan nara sumber yang kadangkala penampilan dan gayanya membuat jenuh bin bosan. Ada teknik jitu mengelabui penatar, yaitu dengan mencopot cover modul P4 dan kemudian dipasang menjadi cover Buku Kho Ping Ho.
Dari jauh kelihatan saya lagi tekun membaca modul P4, sambil angguk-angguk kepala seolah sedang serius menyimak presentasi penatar. Bosan dan jenuh mengikuti penataran hampir dirasakan oleh para mahasiwa, namun kami tidak punyai keberanian untuk melawan atau bahkan berdemontrasi. Pada zaman itu, Pancasila begitu menakutkan, bahkan orang lebih takut dituduh tidak Pancasilais dibandingkan dengan tuduhan tidak beragama.
Kondisi saat ini, menyadarkan pikiran waras saya untuk mengakui bahwa sejelek-jeleknya Rezim Orba, masih banyak peninggalan Orba yang harus dipertahankan, seperti ideologi Pancasila dan nasionalisme. Tidak seharusnya para penggiat politik era “refotnasi” itu membuang semua hal yang berbau Orba ke tong sampah. Ibarat barang bekas yang sudah usang dan tidak layak lagi digunakan. Dalam pengamatan saya yang dangkal, semua hal berbau Orba harus dibumihanguskan, kecuali perilaku korupsi yang cenderung semakin rapat barisan jamaahnya. Begitulah kira-kira imajinasi saya tentang ideologi Pancasila ini.
Tulisan ini sekedar mengingatkan kita semua, bahwa dalam khidupan berbangsa di masa depan perlu ada sebuah pegangan ideologi yang cukup kuat. Itu pun kalau kita masih berkeinginan menjadi bangsa yang besar dan kuat. Tanpa ada ideologi yang kuat mustahil cita-cita itu akan tercapai, setidaknya dalam jangka waktu yang dekat.