Artikel

Politik

Masim Vavai Sugianto

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Masim "Vavai" Sugianto, proud openSUSE community member, IT professional meski kadang-kadang saja bisa prof dan lebih sering nggak. Tinggal di Bekasi, Bekerja di Jakarta. Minat pada Linux dan dunia Open Source, Membaca, Hiking dan Avonturir.

Hashtags Terkini di Twitter : #SBYtegasataumundur


OPINI | 19 November 2009 | 13:46 Dibaca: 895   Komentar: 2   1 dari 1 Kompasianer menilai Bermanfaat

Setelah Facebook menggebrak dengan lebih dari 1 juta pendukung Bibit-Chandra, kini ada gejala baru penyikapan masyarakat atas sikap presiden SBY yang masih dikesankan ragu-ragu. Keragu-raguan ini dibaca masyarakat dari sikap & pernyataan SBY saat menerima dan menyikapi hasil rekomendasi tim 8. Keragu-raguan ini langsung direspon dengan adanya gerakan baru di Twitter : Dalam bentuk posting Twitter (Tweet) dengan Hashtags : #SBYtegasataumundur

Sesuai dengan hastagsnya, para pemilik account Twitter masih berharap pada presiden SBY untuk bertindak tegas dalam merespon rekomendasi dari tim 8. Presiden SBY diharapkan tidak lagi bermain-main dalam retorika, wacana dan terkesan mengulur waktu.

Jika disatu sisi presiden minta dipahami bahwa presiden juga ingin cepat namun tidak ingin menabrak koridor hukum, disisi lain public masih melihat bahwa respon-respon presiden masih kurang.

Munculnya beberapa demo anti tim 8 yang disinyalir merupakan demo bayaran berpotensi membenturkan masyarakat. Jika respon presiden tidak cepat, dikhawatirkan timbul provokasi pada perbedaan pendapat tersebut.

Target dari twitter tentang #SBYtegasataumundur sendiri sederhana. Dengan mendorong tags ini menjadi trending topics, diharapkan presiden SBY memahami betapa banyak pihak-pihak yang menanti ketegasan dalam hal penyikapan rekomendasi tim 8.

Jika tidak hati-hati dalam menyikapinya, bukan tidak mungkin respon publik di dunia maya ini semakin membesar dan semakin sulit dipadamkan.

Saat ini penyikapan masyarakat sudah mulai lebih keras meski masih dengan nada yang relatif santun dan masih mempertimbangkan penyikapan presiden. Jika hal ini masih dibiarkan, mungkin penyikapan yang ada jauh lebih tegas dan lebih menuntut.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: