
Dibaca: 247
Komentar: 2
Nihil
Ada dua cara untuk memenghentikan korupsi, Dua cara dimaksud,:
Pertama, biarkan saja yang tua korupsi. Asalkan yang muda-muda sebagai generasi penerus jangan melakukan hal yang sama, jangan melanjutkan mental korup dari yang tua. Begitu kata seorang pejabat (kepala dinas) kepada saya.
Masih menurut pejabat itu, ketika dia masih mahasiswa, Emil Salim berkunjung ke kampusnya di Makasar. Dalam pertemuan antara mahasiswa dengan Emil Salim yang ketika itu menjabat sebagai menteri mendapat kritikan tajam dan serangan bertubi-tubi dari mahasiswa.
“Pemerintah Orba ndak becus. Banyak sekali KKN dan semuanya menyebabkan penderitaan rakyat. “ Begitu antara lain serangan dan kritik mahasiswa yang ditujukan kepada Emil Salim
Emil Salim yang sudah tersudut diserang mahasiswa tidk kehilangan bahan jawaban yang tepat. Emil Salim menjawab enteng : “kalau kalian mengatakan bahwa generasi tua sudah tidak ada harapan, korup – maka usahakan agar kalau kalian menggantikan mereka yang korup itu, jangan kalian sama saja dengan yang kalian kritik. Kalau sama saja atau kalian korupsi juga sama dengan yang kalian kritik itu, maka sampai kapan pun korupsi akan tetap berjaya di negeri ini. Pasti akan lestari dari generasi ke generasi. “
Mahasiswa terpaku, tak dapat lagi melanjutkan komentar setelah mendapatkan jawaban dari Emil Salim.
Banyak yang mengkritik, namun ketika dia menduduki jabatan yang sama dengan yang dia kritik, tindakannya sama saja bahkan ada yang melebihi.
Kedua, cerita seorang dosen. Dihadapan mahasiswa dosen itu bertanya : siapa yang memiliki orang tua pejabat. Ternyata ada lumayan banyak.
Kemudian dosen menyampaikan idea. Bagaimana kalau yang anak pejabat mengirim surat kepada ayahnya agar jangan melakukan korupsi.
Kalian menulis surat kepada orang tua, kira-kira begini isi surat :“Ayahanda, saya tidak mau kuliah lagi kalau uang kiriman ayah diambil dari hasil korupsi. Buat apa saya mendapatkan kemuliaan di dunia, kalau pembiayaan kuliah saya dari hasil korupsi. “ Begitu usul dosen kepada mahasiswa yang ayahnya pejabat..
Ternyata tidak ada satu pun mahasiswa yang sanggup melakukannya. Ada satu mahasiswa yang curhat kepada dosen. Katanya, saya yakin sekali ayah saya mengongkosi saya kuliah dari hasil korupsi, Berapa sih gaji ayah sehingga dapat membelikan saya mobil, Hp dan mengirimi saya uang dalam jumlah yang cukup besar dibandingkan dengan mahasiswa lainnya, padahal ayah kan hanya seorang PNS.
Memang peran anak penting dalam pencegahan korupsi. Kalau anak manja, selalu minta dikirimkan uang dalam jumlah banyak, meminta dibelikan mobil, tanpa mau memusingkan dari mana asal uang, apakah dari hasil korupsi atau bukan – maka itu sama saja dengan mendorong orang tua menempuh jalan yang salah (korupsi) . Demikian juga peran istri. Istri boleh jadi akan mengingatkan suami agar bekerja secara baik dan berlaku jujur, sebaliknya dapat menjadi pendorong langsung atau tidak langsung suaminya melakukan korupsi.
Nah, kalau pembaca kebetulan anak atau istri seorang pejabat, apakah anda mampu mengingatkan agar ayah/ suami tercinta tidak melakukan korupsi, atau sebaliknya, justru hanya menjadi pemberi andil sehingga sang ayah/suami terjerumus dalam lobang korupsi.