Artikel

Politik

Aha

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

menulis adalah berpikir.

Jathilan di Panggung Wakil Rakyat


OPINI | 07 November 2009 | 09:34 Dibaca: 291   Komentar: 0   Nihil

Sabtu pagi, acara musik Dasyat di RCTI menampilkan kesenian tradisional jathilan. Seni tadisional ini memiliki ciri khas menggunakan kuda tiruan atau di kalangan masyarakat Jawa disebut jaran kepang.
Walaupun agak kontras dengan konsep acara yang modern, perlu diapresiasi semangat produser memperkenalkan kesenian tradisional itu kepada masyarakat luas. Buktinya, presenter acaranya sekalipun kelihatan tidak mengenal dengan baik kesenian tradisional yang disebut sebagai kesenian tertua di Jawa itu.
Tayangan yang menampilkan tiga penari wanita itu menggiring memori saya kembali ke sembilan tahun silam. Jathilan amat populer di kalangan masyarakat Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Jathilan bisa ditampilkan oleh penari pria atau wanita, tetapi tetap dengan konsep yang sama menceritakan kesatria berkuda di medan perang.
Sembilan tahun lalu saya bergabung dengan sebuah kelompok jathilan di Yogyakarta setelah lulus SMA. Karena kemudian masa perkuliahan dimulai, saya hanya sempat ikut dua kali pertunjukan.
Secara turun-temurun dipercaya bahwa para penari bisa kerasukan atau dalam istilah Jawa disebut ‘ndadi’ pada puncak pertunjukan kalau para penarinya larut mengikuti irama musik tradisional yang konstan. Penari jathilan yang kerasukan memang seringkali melakukan tindakan di luar nalar dan akal sehat seperti makan pecahan kaca, silet, mengupas kelapa dengan gigi. Itulah kekayaan tradisi kita yang adiluhung.
Pindah dari panggung musik Dasyat, pertunjukan yang hampir sama bisa kita lihat di panggung wakil rakyat kita. Bedanya, panggung Dasyat menampilkan pertunjukan betulan, panggung wakil rakyat menampilkan pertunjukan dagelan.
Wakil rakyat yang dipilih langsung oleh rakyat memperlihatkan wajah lain yang jauh dari harapan rakyat dalam menanggapi perseteruan antara KPK dan Polri. Wajah lain yang ditampilkan tanpa malu-malu, tanpa beban bahwa mereka adalah wakil rakyat.
Di tengah pusaran kuat dan desakan dari masyarakat untuk membuka kasus itu selebar-lebarnya, wakil rakyat kita justru condong membela Polri setelah mendengar penjelasan mereka sejak Kamis malam hingga Jumat dini hari.
Saya melihat para wakil rakyat sedang menarikan jathilan di panggung mereka dan ‘ndadi’ sehingga lupa pada rakyat yang memilih mereka secara langsung. Sulit berharap mereka sembuh dari ‘ndadi’ dan menjadi penyambung lidah rakyat.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: