Artikel

Politik

Riri Satria

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

just visit me at http://ririsatria40.wordpress.com

Chandra Hamzah


OPINI | 01 November 2009 | 17:00 Dibaca: 920   Komentar: 4   2 dari 2 Kompasianer menilai Bermanfaat

Sewaktu nama Chandra Hamzah terpilih sebagai salah satu jajaran pimpinan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) beberapa waktu yang lalu, sejenak pikiran saya melayang ke masa-masa kuliah di Universitas Indonesia pada kurun waktu 1990 - 1992. Saat itu saya aktif dalam kepengurusan Himpunan Mahasiswa Ilmu Komputer UI (cikal bakal Senat Mahasiswa fak. Ilmu Komputer UI), serta anggota Kelompok Studi Mahasiswa UI “Eka Prasetya”. Saya masih ingat, saat itu adalah masa-masa awal Senat Mahasiswa Universitas Indonesia (SMUI) terbentuk, dan ketua SMUI pun dipilih oleh para Ketua Senat Fakultas (baru setelah beberapa tahun dipilih melalui pemilu raya di lingkungan UI).

Seingat saya, Chandra waktu itu adalah Komandan Resimen Mahasiswa (Menwa) UI, dan mahasiswa Fakultas Hukum UI. Saat itu Menwa adalah organisasi mahasiswa yang kurang disenangi oleh kalangan mahasiswa di lingkungan UI karena sifat mereka yang agak arogan dan “merasa lebih” karena punya akses ke kalangan militer. Tetapi saya menilai sosok Chandra agak berbeda. Chandra memang orangnya sangat tegas, cerdas dan punya nyali (terlihat dalam dia berdebat dan berargumen), tetapi sangat ramah (tidak “bermental militeristik”).

Oh ya, dia ini punya nama panggilan yang unik, yang berbeda dengan namanya, tapi apa ya? saya lupa juga tuh.

Chandra kemudian terpilih menjadi Ketua SMUI menggantikan Eep Saefullah Fatah. Saat itu kami menyebutkan, Chandra melepaskan diri dari jabatan “Menhankam / Pangab” menjadi “Presiden” di lingkungan UI. Saya beberapa kali terlibat diskusi cukup mendalam dengan Chandra waktu itu, dalam kapasitas saya sebagai pengurus Himpunan Mahasiswa Ilmu Komputer UI, dan itulah kesan saya.

Interaksi saya dengan Chandra berikutnya terjadi di kelompok Studi Mahasiswa UI “Eka Prasetya” (KSM-UI EP). Saat itu Chandra tidak aktif di KSM-UI EP, tetapi pacarnya saat itu (yang kemudian jadi isterinya) Nadia Madjid (putri tokoh nasional, alm Nurcholis Madjid) adalah pengurus aktif KSM-UI EP, sehingga Chandra banyak juga ikut nongkrong bersama pentolan-pentolan KSM-UI EP. Saya memang lebih banyak aktif di KSM-UI EP daripada Senat Mahasiswa. Mungkin ini disebabkan saya kurang menyenangi “politik praktis” sehingga suasana di KSM-UI EP yang “lebih mencerminkan intelektualitas” lebih menarik minat saya.

Nah hebatnya, Chandra berada di kedua “dunia” tersebut, yaitu “dunia politik praktis” serta “dunia intelektualitas”. Ada satu tambahan lagi, dia punya nyali seperti “dunia militer”.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk Chandra. Sosok yang saya kenal sejak kuliah dulu, yang sekarang menjadi “korban permainan politik tingkat tinggi” yang tidak mudah dipahami oleh orang awam.

Chan, mungkin kamu sudah lupa sama saya, karena memang interaksi kita tidak terlalu intensif sewaktu kuliah dulu, walaupun kita beberapa kali bertemu dalam berbagai kegiatan dan perdebatan.

Tetapi satu hal yang saya masih ingat Chan, sewaktu penerimaan mahasiswa baru UI tahun 1991. Saat itu kamu jadi Ketua SMUI dan saya adalah salah satu anggota panitia Ordik Mahasiswa di Kampus UI.

Di balairung UI tahun 1991, saya masih ingat kamu berteriak dalam pidatomu “Tidak ada kata jera dalam perjuangan !” … Mudah-mudahan semangat yang sama masih ada di dalam dirimu Chan … TIDAK ADA KATA JERA DALAM PERJUANGAN !

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: